Guru dan Orang Tua Harus Sejalan Bentuk Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Anak

Foto bersama usai pelaksanaan praktik perilaku hidup bersih dan sehat kepada anak-anak TK KB Permata Jaya. (Foto: Istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Pembentukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada anak usia dini tidak cukup hanya dilakukan melalui edukasi di sekolah. Keselarasan pola pendampingan antara guru dan orang tua dinilai menjadi faktor penting agar kebiasaan hidup sehat dapat tumbuh menjadi budaya yang melekat pada anak.
Hal itu disampaikan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Audi Indonesia di TK KB Permata Jaya, Tanjung Anom, Deli Serdang, pada Kamis (11/6/2026).
PKM yang terdiri dari 13 dosen dan 5 mahasiswa tersebut membawakan tema ‘Membentuk Generasi Anak yang Sehat, Aktif, dan Ceria melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah’, dengan tujuan untuk memberikan pemahaman dan juga praktik langsung bagi anak-anak usia dini mengenai budaya hidup bersih di lingkungan sekolah maupun rumah.
Pemateri, Rosita Saragih, menjelaskan bahwa pemberlakuan PHBS di lingkungan sekolah dapat melahirkan anak didik yang sehat, aktif serta ceria dalam beraktivitas sehari-hari.
Ia menyebutkan ada beberapa kebiasaan-kebiasaan kecil yang dianggap sepele namun dapat membuat tubuh kuat, di antaranya adalah mencuci tangan, menggosok gigi, memakan makanan yang sehat, serta menjaga kebersihan salah satunya dengan membuang sampah pada tempatnya.
“Kalau badan sehat dan kuat, anak-anak akan lebih semangat bergerak. Bisa melompat, menari, berlari kecil maupun bermain dengan teman-teman lainnya. Selain itu, tidur yang cukup juga diperlukan oleh anak-anak,” katanya.
Pemateri lainnya, Rameyanti Tampubolon turut menekankan bahwa guru memiliki peran strategis sebagai perantara yang mendampingi anak dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat setiap hari.
Menurutnya, berbagai kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan hingga membuang sampah pada tempatnya perlu terus didampingi sampai akhirnya menjadi rutinitas anak. “Dari kebiasaan itulah nantinya terbentuk budaya sehat pada anak,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PKM, Besti Rohana Simbolon turut menyoroti pentingnya kesamaan pesan antara lingkungan sekolah dan keluarga. Ia menjelaskan bahwa informasi mengenai pola hidup sehat yang diberikan guru di sekolah perlu diperkuat oleh orang tua di rumah agar anak menerima pesan yang konsisten.
Menurut Besti, pendekatan yang digunakan juga perlu mengedepankan komunikasi pendampingan atau Edu-Action Communication, yakni menyampaikan edukasi melalui kalimat-kalimat yang membimbing anak untuk melakukan tindakan sehat, bukan sekadar memberi perintah.
“Anak akan lebih mudah membentuk kebiasaan jika mendapatkan informasi yang sama dari guru dan orang tua. Penyampaiannya pun perlu dalam bentuk kalimat pendampingan yang mengajak dan membimbing, bukan hanya instruksi,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diperkenalkan berbagai bentuk PHBS, mulai dari demo kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga kebersihan gigi, memilih makanan sehat, menggunakan toilet dengan benar, aktif bergerak, hingga menerapkan etika batuk dan bersin yang baik.
Sementara itu, Kepala TK KB Permata Jaya, Dame Maria Manurung mengaku senang atas pelaksanaan kegiatan bagi anak didiknya tersebut.
“TK Permata Jaya juga punya tujuan yang sama dengan praktik-praktik baik yang kita lakukan hari ini. Selain itu, kami juga memiliki visi untuk mengembangkan pendidikan sejak usia dini,” ucapnya.
Melalui pendampingan yang konsisten dari guru dan orang tua seperti yang sudah dipraktikkan, Dame berharap hal ini tidak hanya menjadi pengetahuan bagi anak, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang terbawa hingga dewasa.
Sejumlah dosen dan mahasiswa tersebut merupakan gabungan dari empat program studi yaitu PGSD, PGPAUD, Keperawatan dan Sistem Informasi Universitas Audi Indonesia. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Sejarah Chapel USU, Berdiri Sejak 1986 untuk Kegiatan Keagamaan

















