Thursday, July 16, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Pertengkaran Keluarga Ganggu Mental Anak, Dosen dan Mahasiswa Gelar Pendampingan Anti Kekerasan di PAUD

Mistar.idSelasa, 26 Mei 2026 pukul 06.00 WIB
pertengkaran_keluarga_ganggu_mental_anak_dosen_dan_mahasiswa_gelar_pendampingan_anti_kekerasan_di_paud

Tim pengabdian masyarakat Universitas Audi Indonesia sedang memaparkan materi terkait kekerasan kepada siswa, guru dan orang tua siswa PAUD. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Perubahan perilaku anak usia dini yang tiba-tiba murung dan menyendiri akibat pertengkaran orang tua merupakan salah satu kasus serius. Hal itu yang menjadi perhatian dosen dan mahasiswa Universitas Audi Indonesia dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di PAUD Jehova Jireh, Simalingkar, Medan.

Melalui kegiatan bertajuk ‘Pendampingan Anak, Guru dan Orang Tua dalam Membangun Budaya Anti Kekerasan di Lingkungan PAUD’, para dosen menyoroti dampak kekerasan mental terhadap perkembangan anak usia dini, baik dalam lingkungan sekolah, rumah dan keluarga.

Dosen PG PAUD, Ruspiana Hutagaol mengatakan, kegiatan tersebut berawal dari pengalaman pribadinya saat pernah mengajar di PAUD tersebut ketika masih kuliah.

“Saya melihat banyak anak yang biasanya ceria tiba-tiba datang ke sekolah termenung dan menyendiri. Ketika ditanya, ada anak yang menjawab orang tuanya bertengkar di rumah. Dari situ kami melihat anak-anak juga terkena dampak mental,” ujarnya saat ditemui Mistar di Universitas Audi Indonesia, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, kekerasan terhadap anak bukan hanya berbentuk fisik, tetapi juga dapat berupa tekanan mental yang mempengaruhi kondisi psikologis dan perilaku anak di sekolah.

Karena itu, kegiatan pengabdian dilakukan dengan melibatkan guru dan orang tua melalui penyampaian materi, arahan serta contoh-contoh nyata mengenai pola pengasuhan tanpa kekerasan.

Ia menyebut guru tidak boleh lagi melakukan tindak kekerasan kepada siswa, seperti membentak ataupun memukul. Hal ini disebut juga dapat mengganggu kesehatan mental anak.

“Jadi, karena ini juga ada kerja sama antara PG PAUD dan Hukum Universitas Audi Indonesia terkait ini. Bahwasanya setiap kekerasan itu ada hukumnya, ada hak si anak, hak si orang tua dan hak si guru,” ucapnya.

Sementara itu, Dosen PG PAUD lainnya, Fourmey Rindu Marito mengatakan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.

“Kekerasan itu bukan hanya fisik. Anak yang melihat orang tuanya bertengkar juga bisa terganggu mentalnya. Guru juga harus bisa melihat perubahan perilaku anak di sekolah,” katanya.

Selain mengedukasi orang tua dan guru, tim pengabdian juga memberikan pemahaman kepada anak terkait perlindungan diri dari kekerasan seksual dan pentingnya berani melapor apabila mengalami perlakuan tidak pantas.

“Kami mengajarkan anak untuk menjaga dirinya sendiri, terutama bagian tubuh pribadi, serta berani meminta tolong kepada orang terdekatnya jika mengalami hal yang membuatnya tidak nyaman,” ucap Fourmey.

Ia menambahkan, program tersebut akan dilakukan secara berkelanjutan melalui kerja sama dengan pihak sekolah untuk mendukung pembentukan karakter anak dan budaya anti kekerasan di lingkungan PAUD.

Kegiatan pengabdian ini juga melibatkan dosen dari Prodi PG PAUD lainnya, yakni Raden Syahid Carmelia Ulina Samosir, serta dosen Prodi Hukum Adry Syah Putra bersama beberapa mahasiswa hukum Universitas Audi Indonesia.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN