Bertahan di Usia 75 Tahun, Azhari Keliling Jual Pisau Cukur demi Hidup

Azhari dengan barang dagangannya saat ditemui Mistar di Jalan Kejaksaan, Medan Petisah. (Foto: Anwar/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Sorot matanya menggambarkan perjuangan hidup yang masih dijalaninya hingga kini. Di usia 75 tahun, Azhari tetap berkeliling menjajakan dagangan demi menyambung hidup.
Pria yang tinggal di Jalan Denai, Gang Sugeng, Kelurahan Tegal Sari Mandala III, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, itu sehari-hari menjual paket berisi pisau cukur secara asongan dari satu tempat ke tempat lain.
Saat ditemui Mistar di salah satu warung di sekitar Masjid Jami' Muslim India Selatan, Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah, Kamis (16/7/2026), Azhari mengaku telah menekuni pekerjaan tersebut selama sekitar enam tahun terakhir.
"Saya dulu di Jakarta, di Mangga Dua Square, usaha sama abang jualan pakaian. Nama toko kami waktu itu Toko Tanjung Raya," katanya lirih.
Menurut Azhari, mereka terpaksa menutup toko tersebut ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia.
"Tak bisa lagi usaha, jual harga modal pun orang tak mau beli lagi. Waktu itu Jakarta memang parah kena Covid," lanjutnya.
Setelah menutup usahanya di Jakarta, Azhari kembali ke Medan dan mulai mencari nafkah dengan menjajakan dagangan secara asongan.
Ayah empat anak itu mengaku memilih tetap bekerja karena tidak ingin bergantung kepada siapa pun, termasuk anak-anaknya.
"Saya tak mau minta-minta sama anak. Lebih bagus saya usaha apa saja, yang penting halal," ujarnya.
Dari setiap bungkus dagangan yang terjual, Azhari memperoleh keuntungan sekitar Rp2.000. Satu bungkus berisi dua pisau cukur, dua mancis, dan satu bungkus kapas pembersih telinga (cotton bud) yang dijual seharga Rp10.000.
Meski sesekali mampu menjual hingga 40 sampai 50 bungkus dalam sehari, Azhari mengaku hal itu bukan sesuatu yang sering terjadi. Untuk mendapatkan pembeli, ia bahkan kerap berkeliling hingga ke Binjai dan Serdang Bedagai.
"Kalau dulu saya sering juga sampai ke Rampah, tapi sekarang paling jauh sampai Perbaungan saja," ungkapnya sambil mengunyah roti yang diberikan salah seorang pelanggan warung.
Pria yang akan genap berusia 76 tahun pada 5 Desember mendatang itu juga mengaku belum pernah menerima bantuan pemerintah. Padahal, pada 2020 ia telah melengkapi persyaratan untuk memperoleh bantuan bagi lanjut usia.
"Waktu tahun 2020 itu saya memang pernah mengisi formulir, katanya untuk orang usia lanjut. Tapi sampai sekarang saya tak pernah terima. Pernah saya tanya beberapa kali, tapi karena tak ada juga, saya sudah malas nanya-nanya lagi," bebernya.
Sebelum merantau ke Jakarta, Azhari pernah menjalankan usaha konveksi di Medan Denai bersama almarhumah istrinya. Namun, krisis moneter 1997 membuat usaha tersebut bangkrut dan tak pernah bangkit kembali hingga sang istri meninggal dunia pada 2005.
Kakek yang telah memiliki 17 cucu itu kemudian memutuskan hijrah ke Jakarta untuk membuka usaha pakaian bersama abang kandungnya.
"Kalau anak saya yang paling tua sekarang tinggal di Tapanuli Selatan. Dia menikah dengan menantu saya marga Harahap. Anak saya ada empat, dua laki-laki dan dua perempuan," katanya.
Meski kini harus menjalani hari tua seorang diri sambil terus berjualan, Azhari mengaku tak pernah kehilangan harapan. Baginya, selama masih diberi kesehatan, selalu ada jalan untuk mencari rezeki.
"Jangan pernah putus asa! Rezeki itu pasti ada," tuturnya. (hm25)






















