Siswa Madrasah di Medan Diduga Alami Perundungan, Orang Tua Tuntut Keadilan

Ilustrasi. (Foto: Pixabay)
Medan, MISTAR.ID - Novi Indriani, 48 tahun, tak kuasa menahan air matanya saat menceritakan dugaan perundungan yang terjadi kepada anak bungsunya, MAP yang masih berusia 8 tahun.
Pasalnya, MAP yang masih duduk di bangku kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) itu diduga dirundung oleh teman sekelas dan Wakil Kepala MIS Miftahul Jannah, tempatnya menuntut ilmu.
Kejadian ini bermula saat anaknya bertengkar dengan teman sekelas, yang kemudian dilerai oleh wakil kepala madrasah yang juga merupakan guru tahfiz Al-Qur’an di sana. Sepulang dari sekolah, MAP disebut tampak murung dan mengaku bahwa perut dan pahanya sakit karena dipukul oleh temannya.
Novi pun mengonfirmasi siswa yang memukul anaknya dengan mendatangi rumahnya, namun ia justru tidak mendapatkan solusi. Ia akhirnya mendatangi pihak sekolah untuk membantu memberikan solusi, dan permasalahan sempat dinyatakan sudah selesai.
“Tapi setelah beberapa hari kemudian, terulang lagi kejadiannya. Dia diolok dan dipermalukan, jadi bergaduh lagi lah mungkin, dibilang kawan-kawannya dia tidak punya bapak,” kata Novi saat ditemui Mistar, Rabu (2/9/2026).
Novi menyebut meskipun anaknya tidak memiliki bapak, namun tidak semestinya MAP dipermalukan di depan umum. Ia mengaku tidak tahu dari mana informasi itu bersumber. Novi mengaku dulu pernah bercerita kepada wakil kepala madrasah berinisial MY, namun kini sudah tidak mengajar di sana.
Melihat kondisi anaknya yang semakin terpuruk dan enggan pergi ke sekolah akibat perundungan tersebut, Novi kembali mengadu ke pihak sekolah.
Setelah mengadu, esok harinya perundungan kepada anaknya masih terjadi lagi, tetapi kali ini berasal dari wakil kepala madrasah. Novi mengatakan, wakil kepala madrasah tersebut memarahi anaknya karena ribut dan menyuruhnya keluar dari madrasah. Anaknya dipermalukan, disebut orang tuanya datang dan menangis di kantor sekolah.
“Kalau MAP nggak bisa diatur, MAP keluar saja dari sekolah ini. Udah mamanya nangis semalam di kantor, gitu katanya. Dan anak saya pulang dengan menangis, dia nggak mau sekolah lagi karena sudah dipermalukan,” ucapnya sambil menangis.
“Saya nangis cuma berdua antara saya dan wakil kepala sekolah. Saya kesal, saya kecewa. Sekolah agama tapi moralnya tidak ada. Kan bukan anak saya saja yang nggak punya bapak, banyak anak orang yang nggak punya bapak, kenapa anak saya yang dipermalukan?” tutur Novi lagi menambahkan.
Pihak sekolah juga sempat melakukan mediasi dengan Babinsa, kepala lingkungan, dan juga orang tua. Namun, menurut Novi, mediasi tersebut tidak memberikan solusi yang adil. Ia mengaku tidak ada niat untuk memindahkan anaknya, namun setelah menemui kepala sekolah, ternyata yang didapatkan tidak sesuai dengan harapan.
“Malah mereka mendukung saya untuk mengeluarkan anak saya dari sekolah itu. Sekarang saya sudah pergi, anak saya sudah keluar dari sekolah itu. Tapi identitasnya masih belum jelas karena rapor dan semua data anak saya masih sama mereka,” katanya.
Pihak sekolah disebut sudah memberikan rapor dan data MAP, namun Novi menolak karena menilai pihak sekolah belum menyelesaikan semua administrasi, baik di sekolah yang lama maupun yang baru.
Sementara ini, MAP dititipkan ke sekolah baru untuk memulihkan mentalnya secara perlahan dan mulai belajar dengan nyaman.
Saat ini, Novi sudah melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan Kota Medan dan Komisi Perlindungan Anak. “Besok saya akan melapor ke Kementerian Agama Sumut yang membawahi madrasah-madrasah,” ujarnya. (hm25)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER







Salah Satu Tempat Terkering di Dunia Diselimuti Salju, Badai Atacama Menjangkau hingga Dekat Pasifik

Kasasi Dua Terdakwa Kasus Sabu 89,6 Kg Asal Aceh Ditolak, Vonis 20 Tahun-Penjara Seumur Hidup Inkrah















