Paradoks Petani Sumut: NTP Naik Awal 2026, Konsumsi Rumah Tangga Justru Turun

Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin. (Foto: istimewa)
Medan, MISTAR.ID
Fenomena unik sekaligus miris membayangi sektor pertanian di Sumatera Utara pada awal 2026. Meskipun Nilai Tukar Petani (NTP) secara gabungan mengalami kenaikan, kondisi tersebut tidak serta-merta meningkatkan kesejahteraan petani dari sisi daya beli. Justru, aktivitas belanja rumah tangga petani tercatat menurun di tengah deflasi yang melanda wilayah ini.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menyoroti adanya paradoks kesejahteraan yang dialami petani di Sumut. Berdasarkan data Januari 2026, NTP gabungan Sumut naik 2,88 persen ke level 150,83. Namun, pada saat yang sama, indeks konsumsi rumah tangga petani justru turun sebesar 1,3 persen.
“Artinya, deflasi yang terjadi pada Januari justru menggambarkan penurunan aktivitas belanja rumah tangga petani. Kenaikan NTP tidak serta-merta menjadi cerminan peningkatan belanja petani. Padahal, semestinya kenaikan NTP turut mendongkrak belanja rumah tangga. Namun, kondisi saat ini menunjukkan penurunan belanja petani lebih besar dibandingkan belanja yang digunakan untuk produksi pertanian,” ujar Gunawan, Minggu (8/2/2026).
Kenaikan NTP secara keseluruhan ini sangat didominasi oleh kinerja subsektor tanaman perkebunan rakyat yang melonjak 4,96 persen ke level 212,9. Kondisi tersebut berkorelasi kuat dengan penguatan harga Crude Palm Oil (CPO) dunia yang bergerak naik ke kisaran 4.200 ringgit per ton. Kenaikan harga CPO secara otomatis mendongkrak harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di tingkat petani.
Selain petani sawit, kenaikan NTP juga dirasakan petani tanaman pangan yang naik 1,18 persen serta peternakan yang meningkat 1,56 persen. Kenaikan ini dipicu oleh menguatnya harga gabah serta harga daging sapi dan ayam di pasaran.
Namun, kondisi berbeda dialami petani hortikultura seperti sayur-sayuran dan bumbu dapur. Deflasi sebesar 0,75 persen yang terjadi di Sumut pada Januari justru mencerminkan anjloknya harga sejumlah komoditas hortikultura, seperti cabai.
“Penurunan harga sejumlah komoditas pangan hortikultura seperti cabai tercermin dari penurunan NTP tanaman hortikultura yang merosot 9,63 persen ke level 89,08. Dari kondisi tersebut dapat tergambar bagaimana sulitnya nasib petani yang menanam sayur-sayuran, termasuk komoditas bumbu dapur,” jelas Gunawan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan NTP gabungan hanya menjadi “angka semu” bagi sebagian petani. Meski subsektor perkebunan rakyat menikmati peningkatan kesejahteraan, penurunan konsumsi rumah tangga secara agregat menjadi sinyal bahwa mayoritas petani di Sumut masih sangat berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya, bahkan berpotensi mengalami penurunan daya beli riil akibat volatilitas harga pangan lokal.




















