Monday, July 20, 2026
home_banner_first
MEDAN

Kisah 172 Anak Yatim Piatu Merajut Harapan dan Impian Ditengah Keterbatasan

Mistar.idMinggu, 8 Maret 2026 pukul 05.31 WIB
kisah_172_anak_yatim_piatu_merajut_harapan_dan_impian_ditengah_keterbatasan

Momen kebahagiaan yang terpancar dari anak-anak Yayasan Al Kahfi saat berbuka puasa di Bulan Ramadan (Foto: Berry/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Yayasan Al Kahfi Medan yang terletak di Jalan Arifin No. 72, Kelurahan Sitirejo II, Kecamatan Medan Amplas, merupakan lembaga sosial keagamaan berdiri pada tahun 1999. Yayasan fokus pada pendidikan, santunan anak yatim, duafa, dakwah, dan pembinaan moral remaja di Indonesia.

Yayasan Al Kahfi membuka cabang pertama di Medan tahun 2008 di sebuah rumah berlokasi di Gang Aman. Berjalannya waktu, yayasan itu telah berpindah sebanyak empat kali, pada tahun 2010 pindah ke sebuah rumah di Gang Rahmat.

Tiga tahun kemudian pindah rumah ke Gang Persatuan dan tahun 2017 Yayasan Al Kahfi, memiliki gedung sendiri dengan membangun dari awal hingga berdiri bangunan tiga lantai disertai dengan warna cat, perpaduan biru dan hijau yang ditempati sampai saat ini.

Pengurus Yayasan Al Kahfi Medan, Soemanto menceritakan pertambahan jumlah anak binaan yang berawal dari 17 anak, bertambah ke 52, kemudian 78 anak hingga 90 anak binaan, sampai 230 siswa binaan dan 172 anak santunan tumbuh di panti asuhan itu.

Raut wajah bahagia, semangat dan diiringi senyum, terpancar saat Soemanto bercerita perjalanan Yayasan Al Kahfi. Usia yayasan yang menginjak 17 tahun itu, tak berhenti untuk merajut semangat anak agar bangkit dari keterpurukan dan keterbatasan sosial.

"Kondisi mereka dari latar belakang yang kurang beruntung ini, kita mengajarkan dan menekankan kepada anak-anak agar tetap punya harapan dan impian," ujarnya kepada Mistar, Sabtu (7/3/2026).

Suara bermain anak di pelataran yayasan, membuat pria yang memiliki anak satu itu mengatakan, dasar yayasan membangun impian dan harapan mereka, karena kondisi anak sudah putus asa, tidak mau bersekolah lagi, tidak bisa membaca dan lainnya.

Tak sedikit para donatur yang datang ke Yayasan Al Kahfi, memberi inspirasi kepada anak-anak tersebut dan yang awalnya mereka tidak punya harapan, impian, namun setelah mendengarkan kisah perjalanan donatur, semangat anak kembali lagi.

Sesekali Soemanto memperhatikan anak yang bermain, ia mengatakan di kondisi zaman saat ini, jika anak tidak sekolah itu kasihan maka pelan-pelan diajari membaca, mengaji, bersekolah dan dasar itu menjadi impian dan harapan baru mereka.

Melalui titik terendah masing-masing anak, mereka melihat kakak-abang yang dulu belajar di Yayasan Al Kahfi, dengan kondisi putus sekolah, tidak punya harapan, tidak punya impian, namun sekarang telah berhasil meraih kehidupan yang lebih layak.

"Yayasan ini dianggap sebagai rumah dan tempat berlindung anak-anak, dengan memprioritaskan mereka yang tidak memiliki tempat tinggal, namun untuk yang lain tetap disantuni dan kegiatan ibadah, belajar dan lainnya berjalan di yayasan," ucapnya tersenyum.

Meski seluruh anak tidak tinggal di yayasan, tak sedikit dari mereka masih memiliki orang tua walau tidak lengkap, ada yang tinggal dengan neneknya, namun setiap hari datang ke Yayasan Al Kahfi untuk dikontrol pengembangan dirinya dengan harapan bisa merangkul lebih banyak warga Medan.

Selama Ramadan, Soemanto mengatakan jika terdapat sekitar 30 anak yang tinggal di Yayasan Al Kahfi karena ada yang melakukan tadarus Al-Qur'an sesuai salat tarawih dan dilanjutkan mengaji. Namun di luar Ramadan biasanya ada sekitar delapan yang menetap di yayasan.

Yayasan Al Kahfi membuktikan dengan keterbatasan sosial disertai keterlambatan lainnya, anak-anak masih memiliki impian dan harapan. Mereka pasti memiliki kehidupan yang lebih baik ke depannya.

Diketahui, beberapa alumni Yayasan Al Kahfi membuktikan jika dirinya mampu menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Komunikasi dan Digital, Engineer Prefektur Chiba di Jepang, bahkan Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN