Kapolri Ingatkan Mahasiswa Waspada Tantangan Global dan Bersiap Maksimalkan Bonus Demografi

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo di UMSU Medan. (Foto:Susan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID (28/9/2026) – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengingatkan seluruh mahasiswa agar mempersiapkan diri menghadapi berbagai macam tantangan global yang kian kompleks, terutama disrupsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Hal itu disampaikannya dalam kuliah umum saat Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Senin (28/9/2026).
Listyo mengatakan bahwa perkembangan AI yang berjalan cepat membuka celah kejahatan siber baru, seperti peredaran narkotika dengan metode pemasaran media sosial tersamar dan transaksi menggunakan kripto.
Kemampuan AI yang kian meningkat ini harus diwaspadai. Dengan perkembangan yang begitu pesat, AI dapat saling berinteraksi dan bekerja dengan sendirinya tanpa perintah.
Ia juga mengingatkan fenomena bandwagon effect, di mana seseorang cenderung mengikuti pandangan mayoritas karena dianggap sebagai suatu kebenaran. Literasi digital Indonesia, sebutnya, masih berada di angka 62 persen atau di bawah rata-rata Asia. Literasi indeks masih berkisar di angka 49,96 persen yang berarti masih banyak orang yang tidak memahami atau mengerti dengan bacaan yang dibaca.
“Di satu sisi kita mendapatkan kemudahan dengan adanya digitalisasi. Semuanya menjadi serba cepat, hal-hal yang tidak bisa kita tau bisa dengan cepat kita ketahui dari kemajuan yang ada dari digital yang kita miliki,” katanya.
Namun di sisi lain, kecanggihan ini juga disalahgunakan untuk membuat modus-modus baru dalam melancarkan aksi kejahatan. Kepolisian, sebutnya, juga terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga ruang digital, penguatan struktur siber, pengungkapan kasus-kasus serta bekerja sama dengan Komdigi untuk melakukan pemblokiran terhadap konten berbahaya seperti judi online dan scam.
Di tengah berbagai tantangan global tersebut, Listyo menyebutkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) dan bertransformasi menjadi negara maju, dengan memanfaatkan bonus demografi yang akan dirasakan pada periode 2030-2035 mendatang.
“Kita memiliki kemampuan dan kesempatan itu dengan melakukan transformasi ekonomi dan memanfaatkan momentum bonus demografi yang kita miliki. Saat masuk era tersebut, kita mempersiapkan sumber daya manusia yang kita miliki,” tuturnya lagi.
Ia menyebutkan bahwa Indonesia juga memiliki sumber daya alam yang luar biasa, di antaranya nikel sebesar 62 juta ton atau setara 44,3 persen dari cadangan global. Selain itu, cadangan emas sebanyak 3.600 ton menempatkan Indonesia jadi empat terbesar di dunia.
Produsen timah dan minyak kelapa sawit Indonesia juga merupakan yang terbesar di dunia. Pemerintah juga menerapkan biodiesel B50 untuk mengurangi ketergantungan akan impor solar.
Negara-negara seperti Jepang, Tiongkok dan Korea Selatan disebut sukses dalam memanfaatkan bonus demografi dan membangun pendidikan berkualitas. Lapangan kerja, bidang kesehatan dan gizi juga berhasil diterapkan hingga membawa negara-negara tersebut menjadi negara maju.
“Sementara ada juga negara yang tidak bisa memanfaatkan momentumnya karena pendidikan dan keterampilan mereka tertinggal. Kemudian lapangan kerja juga terbatas dan teknologi serta industrinya juga kurang maju. Jadi ini adalah masalah yang kita hadapi,” ucap Listyo.
Ia mengingatkan, kesempatan sudah ada di depan mata. Tinggal bagaimana memanfaatkan secara maksimal dengan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, masyarakat dan para cendekiawan.
Listyo juga memaparkan sejumlah upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah mulai dari mendorong pendidikan yang berkualitas seperti program sekolah rakyat, sekolah unggulan hingga peningkatan beasiswa-beasiswa.
Tak hanya itu, pemerintah juga disebut tengah mengupayakan lapangan kerja dengan membuat program magang nasional.
“Di luar kampus, mahasiswa harus terus persiapkan diri menjadi agen perubahan. Kehadiran kalian akan memberikan warna positif di masyarakat, manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Saya kira di tahun 2045 nanti, adek-adek berada di usia 38 atau 39 tahun. Usia yang cukup matang untuk menjadi generasi-generasi pemimpin masa depan,” tuturnya. (hm02)






































