Anak Difabel di Medan Suarakan Kesenjangan Generasi Lewat Film ‘Jembatan Waktu’

Foto bersama usai pelaksanaan kegiatan. (foto:dokumen Jembatan Waktu/Mistar)
Medan, MISTAR.ID (10/8/2026) – Program Jembatan Waktu yang didukung Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana 2025 berkolaborasi dengan Komunitas Khadijah Sharaswaty Indonesia menggelar pembuatan film dokumenter tentang kesenjangan generasi (gap generation) antara anak dan orang tua.
Kegiatan yang melibatkan teman tuli, teman dengar, hingga penyandang tunadaksa ini merupakan wadah dan ruang ekspresi yang inklusif bagi para penyandang disabilitas, terutama anak-anak dan remaja. Mereka terlibat aktif mulai dari menggali ide cerita, berbagi pengalaman pribadi, hingga proses pengambilan gambar film dokumenter.
Film ‘Jembatan Waktu’ ini menyoroti dinamika komunikasi antara anak dan orang tua, termasuk perbedaan pandangan terhadap persoalan sehari-hari. Mulai dari kebiasaan makan bersama, kesulitan mengucapkan kata maaf dan kasih sayang, larangan menginap di rumah teman, menonton konser hingga aturan pulang malam.
Persoalan sederhana tersebut diangkat sebagai pintu masuk untuk mengupas bagaimana niat orang tua yang awalnya berupa bentuk perlindungan atau perhatian terkadang diterima berbeda oleh sang anak.
Perwakilan Komunitas Khadijah Sharaswaty Indonesia, Dewi Natadiningrat, mengungkapkan bahwa program ini sengaja dihadirkan untuk memberikan ruang aman bagi anak-anak difabel agar suara mereka dapat didengar dengan setara.
Menurutnya, banyak anak difabel yang ingin didengar, namun kesulitan menyampaikan perasaannya kepada orang tua. Sehingga, lewat film ini, mereka dapat menyampaikan kisah dan cerita masing-masing dengan nyaman.
“Kami percaya setiap anak memiliki cerita yang berharga. Mereka sering tidak mendapat ruang untuk bercerita di keluarga maupun sosial. Jadi kita ingin memastikan suara mereka benar-benar terdengar,” katanya, Rabu (12/8/2026).
Bukan hanya tentang film, Dewi mengatakan bahwa para peserta juga belajar berani berbicara dan mengenali perasaannya masing-masing. Hal ini juga menjadi salah satu proses pemulihan komunikasi dalam keluarga.
Sementara itu, penanggung jawab program Jembatan Waktu Dana Indonesiana, Husna Fadilla Tarigan, menjelaskan bahwa rangkaian diseminasi ini tidak sekadar ajang pemutaran film, tapi wadah dialog untuk membangun empati serta memperkuat hubungan antargenerasi secara humanis dan partisipatif.
Para peserta juga diberikan pelatihan dasar pembuatan film dokumenter, teknik wawancara dan cara penyusunan alur cerita berdasarkan pengalaman mereka. “Dengan harapan, orang tua dapat lebih memahami dunia anak difabel. Pun sebaliknya, anak bisa paham keterbatasan dan harapan orang tua,” tuturnya.
Karya para peserta juga akan dibawa ke ruang publik untuk membahas terkait bagaimana perbedaan generasi dapat berpengaruh pada cara anggota keluarga memahami kebiasaan, aturan maupun ekspresi kasih sayang.
“Film ini jadi pemantik yang mempertemukan perspektif antara orang tua dan anak. Ada beberapa hal yang dianggap biasa oleh satu generasi namun dimaknai berbeda oleh generasi yang lainnya,” ucap Husna lagi.
Husna mengatakan bahwa program ini akan terus dikembangkan dan melibatkan lebih banyak keluarga serta komunitas. Ia juga berharap program yang sama dapat ditiru dan diterapkan di kota-kota lainnya.
“Isu kesenjangan ini juga terjadi di tempat lainnya, tidak hanya di Medan. Kami berupaya menjadikannya gerakan yang berkelanjutan,” katanya.
Husna juga membentuk komunitas bernama Woman Documentary yang juga melibatkan perempuan penyandang disabilitas maupun nondisabilitas. (hm27)























