Perjuangan Marliana Mengantarkan Dua Anak Difabel Meraih Prestasi

Marliana dan dua anaknya. (Foto: Matius/Mistar)
Deli Serdang, MISTAR.ID
Berlatar belakang dari sebuah rumah sederhana yang terletak di Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), perjuangan seorang ibu dimulai. Selama bertahun-tahun, Marliana Nasution, 53 tahun, berjuang keras untuk mengantarkan kedua anaknya yang menyandang status difabel untuk meraih prestasi.
Kisah ini bermula sejak 25 tahun yang lalu. Marlina dan sang suami dikaruniai seorang anak bernama Ummu Lubis, 25 tahun. Lima tahun kemudian lahir lagi adiknya bernama Muhammad Iqbal Lubis, 20 tahun. Dua bersaudara itu tidak dilahirkan secara normal seperti anak-anak pada umumnya.
Ummu dan Iqbal dilahirkan dalam kondisi disabilitas (difabel). Meskipun keduanya dilahirkan dalam kondisi tidak normal, Marliana tidak pernah menyerah. Ia tetap berusaha kedua buah hatinya bisa hidup mandiri dan meraih prestasi seperti anak lainnya.
Hujan masih membasahi jalan saat Mistar mendatangi rumahnya pada, Sabtu (13/6/2026). Marliana bercerita ia tak pernah lelah menembus dingin pagi untuk mengantar kedua anaknya ke sekolah agar masa depannya lebih baik.
Hampir satu jam perjalanan ditempuh setiap hari menuju Sekolah Luar Biasa (SLB) yang terletak di Jalan Adinegoro Kota Medan. Perjuangan Marliana tetap dijalaninya karena bagi Marliana “tak ada mimpi yang terlalu besar dan tak ada mimpi yang terlalu kecil”.
Baca Juga: Pensi SLBN Tebing Tinggi Tampilkan Kreativitas Siswa Difabel Sambut Hari Disabilitas Internasional
Kalimat tersebut bukan hanya sekadar ungkapan motivasi. Kalimat itu menjadi pegangan hidup yang ia tanamkan kepada kedua anaknya.
“Merawat dua anak saya ini sebenarnya seperti merawat bayi pada umumnya. Hanya saja mereka lebih sensitif dan lebih mudah sakit. Beberapa kali harus keluar masuk rumah sakit dan menjalani terapi. Perjuangannya memang lebih berat, tetapi yang penting tetap fokus,” ujar Marliana sambil tersenyum.
Ummu dan Iqbal adalah anak yang menyandang tunadaksa. Hingga saat ini, Iqbal masih mengalami kesulitan berjalan. Namun kondisi tersebut tidak pernah membuat Marliana menyerah.
Di tengah berbagai tantangan, ia justru berusaha membangun kepercayaan diri anak-anaknya sejak dini. Menurutnya, rasa percaya diri seorang anak harus diawali dari keyakinan orang tua.
“Sering saya tanamkan kepada mereka untuk percaya diri. Sebelum anak memiliki rasa percaya diri, orang tuanya harus lebih dulu percaya diri. Memiliki anak difabel bukan sesuatu yang memalukan,” katanya tegas.
Selama membesarkan kedua anaknya, perjuangan hidup Marliana tidak selalu mulus. Ia mengaku kerap mendengar pandangan miring dari sebagian orang yang menganggap anak difabel tidak perlu menempuh pendidikan tinggi karena peluang kerjanya terbatas.
Namun, anggapan itu tidak pernah ia jadikan beban ataupun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan mimpinya dan mimpi sang anak.
“Ada yang berpikir anak difabel tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nantinya hanya bisa bekerja seadanya. Saya tidak pernah berpikir seperti itu. Anak saya sama seperti anak-anak lainnya yang harus diperjuangkan. Soal masa depan, biar Tuhan yang menentukan,” ujarnya.
Ketekunan dan keyakinan itu kini berbuah manis. Ummu dan Iqbal saat ini sama-sama menempuh pendidikan di STIM Sukma dan telah memasuki semester empat. Keduanya juga telah bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa perbankan di Kota Medan.
Di luar aktivitas kuliah dan bekerja, Ummu aktif dalam Komunitas Rumah Difabel Saraswati. Ummu beberapa kali mengikuti kegiatan di luar daerah bersama sesama penyandang disabilitas.
Sementara itu, Iqbal tidak mau kalah dengan kakaknya. Ia menorehkan berbagai prestasi yang membanggakan. Deretan medali dan sertifikat penghargaan memenuhi sudut rumah mereka. Iqbal pernah menjadi atlet Boccia yang mewakili Sumut pada ajang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) di Solo dan berhasil melaju hingga babak semifinal.
Tak hanya itu, Iqbal juga pernah meraih prestasi pada cabang balap kursi roda tingkat Sumut, serta menjuarai kompetisi komputer dan desain grafis. Berbagai pencapaian itu membuat Iqbal beberapa kali mewakili Sumut di kompetisi luar daerah.

Marliana Nasution, 53 tahun. (Foto: Matius/Mistar)
Mengingat perjalanan panjang yang telah dilaluinya, Marliana tak kuasa menyembunyikan haru. Matanya berkaca-kaca saat mengenang masa-masa ketika kedua anaknya masih harus diantar ke sekolah setiap hari.
“Selama 13 tahun saya mengantar mereka dari TK sampai SMA. Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik. Alhamdulillah, mereka banyak berprestasi. Kadang saya sendiri tidak menyangka sekarang mereka sudah bisa bepergian dan melakukan banyak hal secara mandiri,” tuturnya.
Di balik keberhasilan itu, Marliana juga bersyukur karena lingkungan tempat tinggalnya memberikan ruang yang inklusif bagi kedua anaknya untuk tumbuh dan berkembang. Menurutnya, masyarakat di sekitar rumah menerima kehadiran Ummu dan Iqbal dengan baik sehingga keduanya dapat bergaul tanpa rasa canggung.
“Lingkungan di sini alhamdulillah menerima mereka. Memang kalau di tempat umum terkadang masih ada tatapan yang berbeda. Tetapi di situlah tugas orang tua terus menguatkan dan menyabarkan anak-anak. Yang penting kami selalu bersyukur,” kata Marliana. (hm20)























