Pengguna Melatonin Jangka Panjang Hadapi Risiko Gagal Jantung 90 Persen Lebih Tinggi

Ilustrasi. (foto: AI/Mistar)
New York, MISTAR.ID - Penggunaan melatonin jangka panjang pada penderita insomnia kronis dikaitkan dengan risiko gagal jantung sekitar 90 persen lebih tinggi dalam lima tahun, menurut penelitian terhadap lebih dari 130 ribu orang dewasa.
Dilansir ScienceDaily, studi yang bersumber dari American Heart Association (AHA) itu juga menemukan tingkat rawat inap akibat gagal jantung dan kematian dari berbagai penyebab lebih tinggi pada kelompok dengan penggunaan melatonin jangka panjang.
Penelitian melibatkan 130.828 orang dewasa penderita insomnia dengan usia rata-rata 55,7 tahun. Mereka dibagi menjadi kelompok dengan catatan penggunaan melatonin sedikitnya 12 bulan dan kelompok pembanding tanpa catatan penggunaan melatonin.
Selama lima tahun, gagal jantung terjadi pada 4,6 persen kelompok melatonin, dibandingkan 2,7 persen pada kelompok pembanding. Perbedaannya setara dengan peluang mengalami gagal jantung sekitar 90 persen lebih tinggi.
Rawat inap terkait gagal jantung tercatat 19 persen pada kelompok melatonin, dibandingkan 6,6 persen pada kelompok pembanding. Sementara kematian dari berbagai penyebab mencapai 7,8 persen berbanding 4,3 persen.
“Suplemen melatonin mungkin tidak seaman yang selama ini diasumsikan,” kata peneliti utama Ekenedilichukwu Nnadi dari SUNY Downstate/Kings County Primary Care di Brooklyn.
Melatonin merupakan hormon yang secara alami diproduksi tubuh untuk mengatur siklus tidur dan bangun. Versi sintetisnya banyak digunakan sebagai bantuan tidur dan tersedia tanpa resep di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.
Namun, peneliti menegaskan temuan tersebut tidak membuktikan melatonin menyebabkan gagal jantung. Studi ini bersifat observasional sehingga faktor lain, termasuk tingkat keparahan insomnia, depresi atau kecemasan, dapat memengaruhi hasil.
Data penelitian juga hanya mengidentifikasi penggunaan melatonin yang tercatat dalam rekam medis. Karena melatonin dapat dibeli bebas di sejumlah negara, sebagian pengguna sebenarnya mungkin tercatat sebagai nonpengguna.
“Studi kami tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat langsung. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji keamanan melatonin bagi jantung,” ujar Nnadi.
AHA juga menegaskan penelitian tersebut masih berupa abstrak yang dipresentasikan pada Scientific Sessions 2025 dan belum melalui peer review sebagai manuskrip penelitian lengkap.
Temuan itu pertama kali dirilis AHA pada November 2025 dan kembali dipublikasikan ScienceDaily pada 29 Agustus 2026. (*)
























