Tuesday, July 21, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Waspada! Dokter Ungkap Penyebab Awal Penyakit Ginjal Kronis dan Faktor Pemicunya

Mistar.idKamis, 6 November 2025 pukul 17.30 WIB
waspada_dokter_ungkap_penyebab_awal_penyakit_ginjal_kronis_dan_faktor_pemicunya

Ilustrasi kondisi pasien penderita penyakit ginjal kronis. (foto: mediacenterriau/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. M. Allif Maulana Syafrin Lubis, M.Ked (PD) menjelaskan Penyakit Ginjal Kronis (PGK) umumnya diawali oleh kondisi medis tertentu yang menyebabkan gangguan fungsi ginjal secara perlahan.

“PGK dimulai dengan suatu keadaan tertentu yang mengakibatkan terjadinya hiperfiltrasi pada ginjal, disertai peningkatan tekanan kapiler dan aliran darah glomerulus,” ujarnya, Kamis (6/11/2025).

Ia menuturkan, proses tersebut dapat berkembang secara progresif akibat sejumlah penyakit seperti diabetes melitus, hipertensi, dislipidemia, infeksi saluran kemih berulang, asam urat tinggi, kelainan bawaan, serta penyakit autoimun seperti lupus.

Menurut dokter yang bertugas di RSU Eshmun Medan ini, di negara berkembang termasuk Indonesia, diabetes dan hipertensi menjadi penyebab utama PGK, sedangkan di negara maju glomerulonefritis atau peradangan ginjal menjadi faktor dominan.

“Selain itu, ada juga beberapa kasus yang penyebabnya tidak diketahui secara pasti,” katanya.

Lebih lanjut, dr. Allif menyebut faktor lingkungan juga berperan besar. Pencemaran lingkungan, penggunaan pestisida, penyalahgunaan obat pereda nyeri (analgesik), konsumsi obat herbal tanpa pengawasan, dan bahan tambahan makanan berlebihan turut meningkatkan risiko PGK di masyarakat.

“Pola hidup tidak sehat juga menjadi penyebab yang sering diabaikan. Misalnya, kurang minum air putih dan lebih sering mengonsumsi minuman bersoda, berpengawet, atau minuman kemasan berbagai rasa yang justru bisa merusak ginjal,” ucapnya.

Ia menambahkan, penyakit ginjal kronis biasanya terdeteksi melalui pemeriksaan rutin seperti tes darah (profil kimia serum) dan analisa urin. Namun, sebagian pasien baru mengetahuinya setelah muncul gejala lanjut seperti urine berbusa (tanda adanya protein/albuminuria), nokturia (sering buang air kecil malam hari), nyeri pinggang, atau penurunan jumlah urine.

“Pada stadium lanjut, penderita bisa mengalami kelelahan, mual, muntah, hilang nafsu makan, berat badan turun, gatal-gatal, sesak napas, hingga bengkak di tungkai akibat penumpukan cairan,” tuturnya. (hm24)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN