Trump Bantah Isu Stok Amunisi AS Menipis Akibat Perang Iran

residen Amerika Serikat, Donald Trump. (foto: AFUID/Mistar)
Amerika Serikat, MISTAR.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah laporan yang menyebut persediaan amunisi negaranya menipis akibat operasi militer yang berlangsung dalam konflik dengan Iran.
Isu tersebut mencuat setelah sejumlah media internasional melaporkan bahwa Washington sempat menghentikan serangan terhadap Iran usai melancarkan operasi selama 13 hari berturut-turut pada akhir Juli 2026.
Berdasarkan laporan The New York Times dan Axios, keputusan menunda serangan disebut diambil Trump setelah menggelar pertemuan dengan para penasihat keamanan dan pejabat senior pemerintahannya. Salah satu pertimbangan yang mengemuka adalah kekhawatiran terhadap berkurangnya stok rudal pencegat Patriot dan amunisi pertahanan udara lain di kawasan Timur Tengah.
Laporan itu juga menyebut langkah tersebut memberi ruang bagi upaya diplomasi sekaligus mencerminkan penilaian bahwa intensitas operasi militer saat itu telah mendekati batas efektivitasnya. Meski demikian, militer AS dikabarkan tetap menyiapkan opsi apabila operasi tempur berskala besar kembali diperlukan.
Beberapa hari kemudian, kekhawatiran mengenai cadangan amunisi AS semakin menguat. Reuters, Anadolu Agency, dan CNN melaporkan sejumlah komandan senior militer mengakui stok berbagai jenis amunisi terus berkurang, sementara negara-negara sekutu di kawasan Teluk mulai mengkhawatirkan kemampuan pertahanan udara mereka.
CNN melaporkan militer AS telah menggunakan hampir 80 persen stok rudal pencegat serta sekitar separuh rudal Patriot sejak konflik dengan Iran dimulai pada akhir Februari 2026. Mengutip sumber yang mengetahui kondisi inventaris Pentagon, media tersebut menyebut cadangan amunisi berada pada tingkat yang sangat rendah.
Selain itu, ketersediaan sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) juga disebut semakin terbatas. Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan bahwa sebelum perang pecah, AS memiliki sekitar 2.200 rudal Patriot varian terbaru dan 452 rudal THAAD.
Negara-negara Teluk yang mengandalkan sistem pertahanan buatan AS disebut khawatir berkurangnya stok tersebut dapat mengurangi kemampuan mereka menghadapi potensi serangan rudal maupun drone dari Iran.
Sementara itu, Reuters melaporkan sebagian besar rudal presisi jarak jauh milik AS, termasuk Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missile (PrSM), telah digunakan selama konflik. Dua sumber yang dikutip media tersebut bahkan menyebut persediaannya hampir habis.
Apabila kondisi itu berlanjut, Washington diperkirakan akan lebih bergantung pada operasi pengeboman menggunakan pesawat berawak jika kembali melancarkan serangan besar terhadap Iran.
Menanggapi berbagai laporan tersebut, Gedung Putih merilis pernyataan Trump yang menepis kabar adanya krisis amunisi.
"Kami memiliki amunisi jauh lebih banyak daripada negara mana pun di dunia, bahkan melebihi kebutuhan kami. Saat ini industri pertahanan AS juga memproduksi amunisi dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, sekaligus memperluas fasilitas produksi hingga mencetak rekor baru," ujar Trump.



















