Friday, July 3, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Mohammad Bagher Ghalibaf, Mantan Jenderal yang Menjadi Orang Kuat Iran dan Kini Disebut Masuk Daftar Target Pembunuhan

Mistar.idJumat, 3 Juli 2026 pukul 15.53 WIB
mohammad_bagher_ghalibaf_mantan_jenderal_yang_menjadi_orang_kuat_iran_dan_kini_disebut_masuk_daftar_target_pembunuhan

Mohammad Bagher Ghalibaf, Mantan Jenderal yang Menjadi Orang Kuat Iran dan Kini Disebut Masuk Daftar Target Pembunuhan. (foto:wikipedia/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (3/7/2026) - Nama Mohammad Bagher Ghalibaf kembali menjadi perhatian dunia di tengah memanasnya dinamika politik dan keamanan Timur Tengah. Ketua Parlemen Iran tersebut disebut-sebut masuk dalam daftar tokoh yang berpotensi menjadi target pembunuhan di tengah ketegangan yang melibatkan Iran dan Israel.

Meski kabar tersebut belum pernah dikonfirmasi secara resmi oleh Israel, kemunculan nama Ghalibaf dalam berbagai laporan media internasional menunjukkan betapa strategisnya posisi politik yang ia miliki di Republik Islam Iran.

Lalu, siapa sebenarnya Mohammad Bagher Ghalibaf dan bagaimana perjalanan kariernya hingga menjadi salah satu figur paling berpengaruh di Iran?

Dari Medan Perang ke Pusat Kekuasaan Iran

Mohammad Bagher Ghalibaf lahir di Mashhad pada 1961. Kariernya mulai menanjak ketika bergabung dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran saat Perang Iran-Irak pada dekade 1980-an.

Di usia yang relatif muda, ia dipercaya memimpin sejumlah unit penting dalam IRGC. Pengalaman militer tersebut menjadi fondasi kuat yang membawanya masuk ke lingkaran elite keamanan dan politik Iran.

Setelah perang berakhir, Ghalibaf terus meniti karier di sektor keamanan. Ia pernah menjabat sebagai Komandan Angkatan Udara Garda Revolusi sebelum dipercaya memimpin Kepolisian Nasional Iran pada periode 2000 hingga 2005.

Perjalanan panjang di dunia militer membuatnya dikenal sebagai sosok yang disiplin, tegas, dan memiliki jaringan luas di kalangan elite keamanan Iran.

Membangun Karier Politik Lewat Teheran

Nama Ghalibaf semakin dikenal publik setelah terpilih sebagai Wali Kota Teheran pada 2005. Jabatan tersebut diembannya selama sekitar 12 tahun hingga 2017.

Selama memimpin ibu kota Iran, ia dikenal mendorong berbagai proyek pembangunan infrastruktur, mulai dari pengembangan jaringan transportasi publik, perluasan metro, hingga pembangunan jalan raya dan fasilitas perkotaan lainnya.

Pendukungnya menilai Ghalibaf sebagai administrator yang efektif dan berorientasi pada hasil. Namun, masa kepemimpinannya juga tidak lepas dari kritik. Sejumlah pihak menyoroti isu transparansi serta dugaan penyimpangan dalam beberapa proyek pembangunan yang dijalankan pemerintah kota.

Terlepas dari kontroversi yang muncul, kiprahnya sebagai wali kota berhasil memperkuat posisinya sebagai salah satu tokoh konservatif paling menonjol di Iran.

Tiga Kali Gagal Jadi Presiden

Ambisi politik Ghalibaf tidak berhenti di Teheran. Ia beberapa kali mencoba menembus kursi kepresidenan Iran.

Tercatat, ia maju dalam pemilihan presiden pada 2005, 2013, dan 2017. Namun, seluruh upaya tersebut berakhir dengan kekalahan.

Meski demikian, kegagalan dalam kontestasi presiden tidak membuat pengaruh politiknya surut. Sebaliknya, ia tetap menjadi figur penting di kubu konservatif yang memiliki basis dukungan kuat di parlemen maupun kalangan Garda Revolusi.

Menjadi Ketua Parlemen dan Tokoh Sentral Iran

Puncak karier politiknya datang pada 2020 ketika ia terpilih sebagai Ketua Majelis Syura Islam atau Parlemen Iran.

Posisi tersebut menempatkannya sebagai salah satu pejabat paling berpengaruh dalam sistem politik Iran. Selain memiliki peran penting dalam pembentukan undang-undang, Ketua Parlemen juga terlibat dalam berbagai isu strategis, termasuk kebijakan luar negeri dan keamanan nasional.

Banyak pengamat menilai Ghalibaf sebagai figur yang mampu menjembatani kepentingan kalangan militer, parlemen, dan elite konservatif Iran.

Fakta Menarik tentang Mohammad Bagher Ghalibaf

Di balik citranya sebagai mantan komandan militer, Ghalibaf juga memiliki latar belakang akademik. Ia diketahui meraih gelar doktor di bidang geografi politik.

Tak hanya itu, ia juga dikenal sebagai pilot dan pernah menerbangkan pesawat komersial Airbus. Kombinasi pengalaman militer, akademik, dan birokrasi membuatnya kerap disebut sebagai "teknokrat konservatif", yakni politisi yang tetap berpegang pada nilai-nilai konservatif tetapi memiliki pendekatan pragmatis dalam urusan pemerintahan dan pembangunan.

Mengapa Ghalibaf Disebut Menjadi Target Pembunuhan?

Nama Ghalibaf kembali menjadi sorotan setelah sejumlah media internasional mengutip laporan yang menyebut adanya kekhawatiran dari pihak Amerika Serikat terkait kemungkinan upaya penargetan terhadap tokoh-tokoh penting Iran selama berlangsungnya proses diplomasi regional.

Dalam laporan tersebut, Ghalibaf bersama Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi disebut sebagai figur yang dinilai memiliki peran penting dalam berbagai negosiasi dan komunikasi politik.

Laporan itu juga mengungkap adanya informasi mengenai potensi ancaman terhadap perjalanan yang dilakukan Ghalibaf ketika kembali dari Islamabad. Disebutkan bahwa aparat keamanan Iran menerima peringatan mengenai kemungkinan ancaman terhadap pesawat yang ditumpanginya sehingga rute perjalanan sempat mengalami perubahan.

Namun hingga kini, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Pemerintah Israel juga tidak memberikan konfirmasi maupun komentar resmi terkait laporan tersebut.

Mengapa Sosoknya Sangat Penting bagi Iran?

Perhatian besar terhadap Mohammad Bagher Ghalibaf tidak lepas dari posisinya yang berada di persimpangan tiga pusat kekuatan utama Iran, yakni militer, parlemen, dan elite politik konservatif.

Latar belakangnya sebagai mantan komandan Garda Revolusi memberinya pengaruh di sektor keamanan. Sementara jabatannya sebagai Ketua Parlemen membuatnya memiliki peran strategis dalam proses pengambilan kebijakan negara.

Kombinasi kedua faktor tersebut menjadikan Ghalibaf bukan sekadar politisi biasa, melainkan salah satu figur yang turut menentukan arah kebijakan Iran di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang terus berubah.

Karena alasan itulah, setiap isu yang menyangkut keselamatan, peran politik, maupun masa depan kariernya selalu menarik perhatian komunitas internasional dan menjadi bagian dari dinamika politik kawasan yang lebih luas.

(berbagaisumber/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN