Wednesday, August 26, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Titik Panas Karhutla Indonesia Tertinggi Sejak 2015, Picu Udara Tak Sehat di Malaysia

Mistar.idRabu, 26 Agustus 2026 pukul 16.41 WIB
titik_panas_karhutla_indonesia_tertinggi_sejak_2015_picu_udara_tak_sehat_di_malaysia

Masjid Putra (kiri) dan Kantor Perdana Menteri Malaysia diselimuti kabut asap di Putrajaya, Malaysia, pada 14 Agustus 2026. Otoritas Malaysia saat itu memperingatkan tingginya tingkat polusi udara akibat kebakaran hutan di kawasan regional. (foto: AFP/Mohd Rasfan via CNA)

news_banner

Kuala Lumpur, MISTAR.ID - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali memicu kabut asap lintas batas. Lebih dari 5.100 titik panas terdeteksi sepanjang Agustus 2026, menjadi jumlah tertinggi untuk bulan Agustus sejak 2015.

Channel News Asia (CNA) dalam laporannya, Rabu (26/8/2026), menyebutkan lonjakan titik panas terjadi di tengah meluasnya kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Sumatra dan Kalimantan.

Dampaknya ikut dirasakan Malaysia. Pada Selasa (25/8/2026), sebanyak 29 wilayah mencatat Indeks Pencemaran Udara (API) pada kategori tidak sehat.

Kondisi terburuk tercatat di Serian, Sarawak, dengan API mencapai 182. Johan Setia di Selangor berada pada angka 173, disusul Sri Aman, Sarawak, dengan 170.

Shah Alam mencatat API 162 dan Kuching 160. Sementara Tanjung Malim di Perak berada pada angka 157 dan Taiping 155.

Kabut asap juga menyelimuti Kuala Lumpur, dengan salah satu stasiun pemantauan mencatat API 154. Di Johor, Segamat, Batu Pahat dan Tangkak masing-masing mencatat angka 152.

Departemen Lingkungan Hidup Malaysia menyebut peningkatan jumlah wilayah dengan kualitas udara tidak sehat di pantai barat Semenanjung Malaysia dan sejumlah kawasan Sarawak dipengaruhi pergerakan kabut asap dari berbagai arah.

Berdasarkan pemantauan ASEAN Specialised Meteorological Centre, sebanyak 287 titik panas terdeteksi di Kalimantan dan 65 di Sumatra pada Senin (24/8/2026). Kabut asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga pekat juga terpantau bergerak dari Kalimantan Barat menuju wilayah barat Sarawak.

Menurut standar Malaysia, API 101 hingga 200 masuk kategori tidak sehat, 201 hingga 300 sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 dikategorikan berbahaya.

Selain 29 wilayah dengan udara tidak sehat, sebanyak 38 stasiun pemantauan lainnya mencatat kualitas udara pada kategori sedang.

Di Indonesia, pemerintah meningkatkan operasi penanggulangan karhutla melalui pengerahan personel tambahan TNI, helikopter untuk water bombing, serta operasi modifikasi cuaca.

Presiden Prabowo Subianto juga memerintahkan pencabutan izin perusahaan apabila ditemukan indikasi mereka memerintahkan pembakaran hutan dan lahan.

Krisis kabut asap tersebut turut mendorong Indonesia dan Malaysia meningkatkan kerja sama penanganan. Indonesia telah memberikan izin kepada Malaysia untuk memasuki wilayah udaranya dalam operasi penyemaian awan di kawasan perbatasan.

Hingga Rabu (26/8/2026) pukul 09.00 waktu setempat, kabut asap belum sepenuhnya mereda. Sebanyak 16 wilayah Malaysia masih mencatat kualitas udara pada kategori tidak sehat.

Sebelumnya, kabut asap juga telah berdampak pada kesehatan masyarakat Malaysia. Kementerian Kesehatan setempat mencatat kasus asma meningkat 259 persen dan ISPA 124 persen antara Minggu Epidemiologi ke-32 dan ke-33. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN