Sunday, September 13, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Houthi Rebut Pulau Strategis, Saudi Tutup Pipa Minyak Usai Serangan Drone

Mistar.idMinggu, 13 September 2026 pukul 13.18 WIB
houthi_rebut_pulau_strategis_saudi_tutup_pipa_minyak_usai_serangan_drone

Pendukung kelompok Houthi Yaman meneriakkan yel-yel sambil mengangkat senjata dalam aksi di Sanaa, Yaman, Jumat (11/9/2026), untuk merayakan keberhasilan merebut Pulau Mayun di Selat Bab el-Mandeb. (foto: AP/Osamah Abdulrahman)

news_banner

Kairo, MISTAR.ID - Perang Iran membuka front baru di Laut Merah setelah kelompok Houthi Yaman merebut Pulau Mayun di Selat Bab el-Mandeb. Pada saat bersamaan, Arab Saudi menutup pipa minyak East-West setelah fasilitas tersebut diserang drone.

Pulau Mayun, yang juga dikenal sebagai Perim, berada di pintu masuk selatan Laut Merah dan memiliki posisi strategis di Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran terpenting dunia.

Perebutan pulau itu dikonfirmasi seorang pejabat senior militer pemerintah Yaman yang diakui internasional dan seorang pejabat Houthi kepada Associated Press (AP).

Houthi sebelumnya juga merebut kota pelabuhan Mokha. Dalam pernyataannya, kelompok tersebut mengklaim kemajuan di sepanjang pesisir dan menjanjikan “eskalasi dibalas dengan eskalasi” dalam konfrontasi dengan Arab Saudi.

Houthi juga menyatakan “navigasi maritim aman bagi seluruh perusahaan, kecuali kapal-kapal Saudi.”

Perkembangan ini meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi yang semakin mengandalkan Laut Merah sebagai jalur alternatif ekspor minyak dari Selat Hormuz.

Saudi Tutup Pipa East-West

Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan pipa East-West ditutup setelah diserang drone. Riyadh menyebut langkah tersebut sebagai “tindakan pencegahan.”

Pipa yang dibangun pada 1980-an itu menjadi jalur penting untuk membawa minyak menuju pelabuhan Laut Merah. Pada awal Juni, ekspor melalui jalur tersebut telah meningkat menjadi lebih dari 5 juta barel per hari, menurut Badan Energi Internasional (IEA).

Kementerian Luar Negeri Saudi menuding drone penyerang berasal dari Irak. Namun Riyadh menyatakan tidak langsung membalas untuk memberi pemerintah Irak “kesempatan mengambil langkah-langkah yang diperlukan.”

Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi kemudian memerintahkan penyelidikan setelah otoritas menyimpulkan serangan ke Arab Saudi diluncurkan dari Provinsi Maysan. Komandan wilayah tersebut turut diberhentikan.

Sementara itu, seorang pejabat militer pemerintah Yaman mengatakan kurangnya koordinasi antara tentara dan milisi sekutu telah memberi "peluang emas" bagi Houthi untuk memperluas wilayah.

Penyiar Houthi juga menyebut Arab Saudi menyerang bandara di Mokha setelah kota tersebut direbut. Tidak ada laporan mengenai korban maupun kerusakan.

Lalu lintas kapal melalui Bab el-Mandeb sebelumnya telah turun sekitar 60 persen sejak Houthi mulai menyerang sejumlah kapal pada akhir 2023.

Pertempuran terbaru dikhawatirkan mengakhiri gencatan senjata rapuh yang sejak 2022 relatif meredakan perang saudara Yaman.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan lebih dari 46.000 orang mengungsi akibat peningkatan pertempuran dalam sepekan terakhir.

“Anda bisa melihat ketakutan di mata mereka. Orang-orang ketakutan,” kata Kepala Misi IOM di Yaman, Abdusattor Esoev.

Houthi telah berperang melawan pemerintah Yaman sejak 2014. Arab Saudi kemudian terlibat dalam konflik pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman. (AP)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN