Heboh! Tentara AS Dituduh Hantam Pesta Pernikahan di Iran, Puluhan Tamu Tewas Termasuk Anak-anak

Militer As dituduh melancarkan serangan yang menghantam sebuah rumah saat pesta pernikahan di Kabupaten Sirik bagian selatan Iran.(Foto: Instagram/unexplnd)
Washington, MISTAR.ID (4/9/2026) – Tudingan mengejutkan datang dari Iran. Militer Amerika Serikat diduga meluncurkan serangan yang menghantam sebuah pesta pernikahan di Sirik, Iran dan menewaskan puluhan orang termasuk anak-anak.
Dilansir dari BBC dan CNN, insiden ini memicu kemarahan Tehran dan respons dari Gedung Putih. Wakil Presiden AS JD Vance angkat bicara pada Kamis (3/9/2026) waktu setempat. Ia menyatakan pihaknya sedang menyelidiki dugaan serangan tersebut.
"Saya sebenarnya tidak percaya dengan laporan media pemerintah Iran soal ini. Rekam jejak mereka buruk dalam memberitakan konflik. Tapi kami tetap akan menyelidiki," ujar Vance di Gedung Putih, dikutip BBC.
Menurut laporan awal, serangan terjadi Rabu (2/9/2026) pagi di wilayah Kuhestak, Sirik. Sasarannya disebut sebagai kediaman warga.
Gubernur Sirik, Reza Shahidiyan, menyebut 63 orang terluka dalam insiden itu. Dari jumlah tersebut, 50 orang adalah perempuan dan anak-anak. Sedikitnya 4 orang tewas, termasuk anak-anak.
Palang Merah Iran melaporkan, pecahan rudal menghantam sebuah rumah yang sedang digunakan untuk pesta pernikahan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengecam keras insiden ini dan menyebutnya sebagai "kejahatan perang".
Tak berselang lama, Iran melancarkan serangan balasan. Sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah, termasuk di Kuwait dan Uni Emirat Arab, menjadi sasaran.
Sementara itu, BBC Verify telah mengonfirmasi keaslian video dan foto dari lokasi kejadian. Dalam rekaman itu terlihat sebuah menara telekomunikasi hancur di dekat pantai Kuhestak.
Rumah-rumah di radius 130 meter dari menara itu juga rusak parah.Tim forensik BBC Persia mencatat, menara yang hancur itu berjarak hanya 112 meter dari rumah tempat pesta pernikahan berlangsung.
Hingga berita ini diturunkan, Pentagon belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan tersebut. (hm02)





















