Sunday, November 8, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Gadi Eisenkot Ditunjuk Bentuk Pemerintahan Baru Israel, Akankah Netanyahu Lengser?

Mistar.idMinggu, 8 November 2026 pukul 17.33 WIB
gadi_eisenkot_ditunjuk_bentuk_pemerintahan_baru_israel_akankah_netanyahu_lengser

Gadi Eisenkot Ditunjuk Bentuk Pemerintahan Baru Israel, Akankah Netanyahu Lengser? (foto ilustrasi:chatgpt/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID (8/11/2026) — Kekuasaan Benjamin Netanyahu menghadapi ujian politik baru. Presiden Israel Isaac Herzog memutuskan memberikan mandat kepada Gadi Eisenkot, mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel (IDF) sekaligus pemimpin Partai Yashar, untuk membentuk pemerintahan baru setelah pemilu 27 Oktober 2026 menghasilkan parlemen tanpa mayoritas mutlak.

Keputusan yang diumumkan pada 7 November 2026 itu menjadi pukulan politik bagi Netanyahu. Dalam konsultasi dengan Presiden Herzog, Eisenkot memperoleh rekomendasi dari faksi-faksi yang mewakili 67 anggota Knesset, sedangkan Netanyahu hanya didukung 46 anggota parlemen. Sementara itu, tujuh anggota lainnya tidak merekomendasikan kandidat mana pun.

Eisenkot dijadwalkan menerima mandat secara resmi pada 8 November 2026. Ia memiliki waktu 28 hari untuk membentuk pemerintahan, dengan kemungkinan perpanjangan maksimal 14 hari.

Namun, penunjukan tersebut belum otomatis menjadikannya perdana menteri. Ia harus membangun koalisi yang mampu memperoleh dukungan mayoritas sedikitnya 61 dari 120 anggota Knesset.

Siapa Gadi Eisenkot? Mantan Jenderal dengan 41 Tahun Pengabdian Militer

Gadi Eisenkot lahir di Tiberias, Israel, pada 19 Mei 1960. Ia merupakan purnawirawan jenderal yang menjabat Kepala Staf Umum IDF ke-21 pada periode 2015–2019.

Karier militernya dimulai pada 1978 ketika bergabung dengan Brigade Golani. Selama lebih dari empat dekade, ia menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari komandan Brigade Golani, Kepala Divisi Operasi, Komandan Komando Utara, Wakil Kepala Staf hingga pimpinan tertinggi militer Israel.

Salah satu operasi penting selama masa kepemimpinannya adalah Operation Northern Shield pada 2018, yang bertujuan menemukan dan menghancurkan terowongan lintas perbatasan milik Hezbollah dari Lebanon.

Eisenkot mengakhiri masa dinas militernya pada Januari 2019 setelah 41 tahun pengabdian. Rekam jejak tersebut menjadikannya salah satu figur dengan latar belakang pertahanan paling menonjol dalam politik Israel.

Dari Kabinet Perang Netanyahu hingga Menjadi Penantang Politik

Eisenkot memasuki politik pada 2022 dengan bergabung bersama Benny Gantz dalam Partai National Unity.

Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, ia masuk ke pemerintahan darurat nasional Netanyahu dan menjadi anggota pengamat dalam kabinet perang. Namun, pada Juni 2024, ia bersama Gantz meninggalkan pemerintahan karena perbedaan pandangan mengenai strategi perang Gaza dan arah kepemimpinan Netanyahu.

Pada 2025, Eisenkot mendirikan Partai Yashar sebagai kendaraan politiknya. Partai tersebut kemudian memperoleh 21 kursi dalam pemilu 2026 dan menjadikannya salah satu kekuatan utama penantang Netanyahu.

Secara politik, Eisenkot mengkritik pengelolaan perang Gaza dan kekerasan pemukim ekstremis terhadap warga Palestina. Meski demikian, ia tetap mengambil pendekatan keamanan yang keras, termasuk menolak pembentukan negara Palestina.

Karena itu, persaingannya dengan Netanyahu tidak dapat disederhanakan sebagai pertentangan antara kelompok pro dan anti-Israel. Persaingan tersebut lebih berkaitan dengan kepemimpinan, strategi keamanan, tata kelola pemerintahan, dan arah koalisi politik.

Mengapa Presiden Isaac Herzog Memilih Eisenkot?

Keputusan Presiden Isaac Herzog didasarkan pada hasil konsultasi dengan seluruh faksi yang terpilih menjadi anggota Knesset.

Eisenkot memperoleh rekomendasi dari kelompok yang mewakili 67 anggota parlemen, lebih banyak dibandingkan Netanyahu yang memperoleh 46 rekomendasi. Meski demikian, Herzog juga mempertimbangkan persoalan mendasar: apakah kandidat yang memperoleh dukungan tersebut benar-benar mampu membangun pemerintahan yang stabil.

Hasil pemilu memperlihatkan bahwa blok Netanyahu menguasai 53 kursi, sedangkan empat partai utama pendukung Eisenkot memiliki 48 kursi. Dua partai Arab memperoleh total 19 kursi.

Tidak ada blok yang mencapai ambang mayoritas 61 kursi. Dengan demikian, dukungan partai-partai Arab berpotensi menjadi penentu pembentukan pemerintahan baru.

Ada Apa dengan Netanyahu? Koalisi Kehilangan Mayoritas

Benjamin Netanyahu menghadapi persoalan politik yang tidak sederhana. Blok pemerintahan yang selama ini menopangnya hanya memperoleh 53 kursi, delapan kursi di bawah ambang mayoritas.

Salah satu persoalan yang memperumit situasi adalah perdebatan mengenai pengecualian wajib militer bagi komunitas ultra-Ortodoks atau Haredi. Kebijakan tersebut menjadi sumber ketegangan antara kelompok sekuler dan partai-partai agama yang selama ini menjadi sekutu Netanyahu.

Selain itu, Netanyahu terus menghadapi kritik atas kegagalan mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, pengelolaan perang Gaza, serta belum jelasnya strategi jangka panjang Israel.

Eisenkot termasuk tokoh yang mendesak evaluasi dan penyelidikan atas kegagalan keamanan tersebut. Ia juga mengkritik keputusan-keputusan pemerintahan Netanyahu yang dinilainya lebih dipengaruhi pertimbangan politik daripada tujuan strategis perang.

Situasi ini membuat persaingan keduanya semakin tajam. Meski demikian, Netanyahu belum otomatis kehilangan jabatan. Ia masih menjabat sampai pemerintahan baru berhasil dibentuk dan mengambil alih kekuasaan.

Partai Arab Jadi Penentu, tetapi Eisenkot Menghadapi Dilema

Tantangan terbesar Eisenkot adalah memperoleh dukungan mayoritas tanpa kehilangan sekutu politiknya.

Dua partai Arab, yakni Joint List dan Ra'am, memiliki total 19 kursi dan telah merekomendasikannya kepada Presiden Herzog. Dukungan tersebut membuka peluang bagi Eisenkot untuk membangun pemerintahan alternatif.

Namun, kerja sama dengan partai-partai Arab bukan persoalan mudah. Sejumlah kelompok kanan dalam oposisi menolak ketergantungan pada dukungan politik Arab, sementara Eisenkot sendiri harus mempertimbangkan batas-batas kerja sama yang dapat diterima calon mitra koalisinya.

Pilihan lainnya adalah merangkul partai-partai ultra-Ortodoks atau membentuk pemerintahan persatuan nasional. Akan tetapi, perbedaan pandangan mengenai wajib militer dan kebijakan keamanan dapat menjadi penghalang.

Dengan demikian, memperoleh 67 rekomendasi untuk menerima mandat tidak sama dengan memiliki 67 suara yang siap mendukung pemerintahan.

Fakta Menarik: Putra dan Keponakan Eisenkot Tewas dalam Perang Gaza

Di balik perjalanan politik dan militernya, Eisenkot memiliki pengalaman pribadi yang berkaitan langsung dengan perang Gaza.

Putranya, Gal Eisenkot, tewas dalam pertempuran pada Desember 2023. Sehari kemudian, keponakannya, Maor Cohen Eisenkot, juga gugur dalam pertempuran di Gaza.

Kehilangan dua anggota keluarga tersebut menjadi bagian penting dari kisah pribadinya selama perang Israel-Hamas. Peristiwa itu juga memperlihatkan bahwa Eisenkot tidak hanya terlibat dalam pengambilan keputusan perang, tetapi keluarganya turut menanggung konsekuensi konflik tersebut.

Apa Dampaknya bagi Masa Depan Israel?

Penunjukan Eisenkot membuka kemungkinan perubahan kepemimpinan Israel, tetapi belum menjamin perubahan mendasar dalam kebijakan negara tersebut.

Jika berhasil membentuk pemerintahan, Eisenkot akan menghadapi sejumlah persoalan besar, mulai dari perang dan keamanan Gaza, ancaman Iran, hubungan dengan Hezbollah, ketegangan di Tepi Barat, hingga perpecahan politik dan sosial di dalam negeri.

Sikapnya yang menolak pembentukan negara Palestina juga menjadi alasan mengapa pergantian perdana menteri tidak otomatis berarti perubahan besar dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina.

Di sisi lain, dukungan partai-partai Arab akan menjadi ujian tersendiri bagi pemerintahan baru, terutama dalam menentukan apakah keterlibatan mereka hanya sebatas dukungan parlementer atau berkembang menjadi partisipasi dalam pengambilan keputusan.

Pada akhirnya, pertarungan politik Israel kini memasuki babak penentuan. Eisenkot memiliki kesempatan pertama untuk mengakhiri dominasi Netanyahu, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan menyatukan kelompok-kelompok politik yang memiliki kepentingan berbeda.

Pertanyaan besarnya bukan lagi sekadar siapa yang memperoleh mandat presiden, melainkan apakah Eisenkot mampu mengubah dukungan politik menjadi pemerintahan yang benar-benar memiliki mayoritas di parlemen.

(reuters/theguardian/aljazeera/presidenofisrael/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN