David Petraeus Kritik Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

Mojtaba Khamenei sebagai oemimpin tertinggi Iran terbaru (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menuai berbagai reaksi dari tokoh internasional. Salah satunya datang dari mantan Direktur Central Intelligence Agency (CIA), David Petraeus, yang menilai keputusan tersebut tidak sepenuhnya tepat di tengah situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah.
Mojtaba Khamenei ditunjuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan oleh Amerika Serikat dan Israel. Serangan itu memicu ketegangan besar di kawasan dan memperburuk konflik yang telah berlangsung.
Petraeus mengatakan banyak pihak sebelumnya berharap Iran akan dipimpin oleh figur yang lebih pragmatis.
Menurutnya, Mojtaba kemungkinan besar akan melanjutkan pendekatan ideologis yang selama ini dijalankan oleh ayahnya.
“Kami berasumsi dia akan melanjutkan apa yang dilakukan ayahnya, yaitu menjadi ulama ideologis garis keras,” ujar Petraeus kepada jurnalis Jessica Dean, Senin (9/3/2026).
Petraeus juga menyoroti latar belakang Mojtaba yang tidak dikenal sebagai ulama dengan pangkat tinggi. Ia bahkan mempertanyakan apakah Mojtaba telah mencapai tingkat ayatollah.
“Sejauh yang saya tahu, dia bahkan bukan seorang ayatollah, kecuali jika baru saja dipromosikan. Hal serupa juga pernah terjadi pada ayahnya ketika dipilih beberapa dekade lalu,” katanya.
Lebih lanjut, Petraeus menilai pemerintah Amerika Serikat sebenarnya berharap muncul pemimpin Iran yang bersedia merespons tuntutan Washington, terutama terkait penghentian program nuklir dan pengembangan rudal negara tersebut.
Namun, ia mengakui masih ada kemungkinan Mojtaba menunjukkan pendekatan berbeda setelah benar-benar memegang kekuasaan.
Pengaruh Mojtaba di Balik Layar
Mojtaba Khamenei yang kini berusia 56 tahun merupakan putra kedua Ali Khamenei. Selama ini ia dikenal memiliki pengaruh cukup kuat di lingkaran kekuasaan Iran meski tidak memegang jabatan resmi dalam pemerintahan.
Ia disebut memiliki hubungan erat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), salah satu institusi militer paling berpengaruh di Iran, serta dengan kelompok paramiliter sukarelawan Basij.
Meski demikian, Mojtaba tidak dikenal sebagai ulama berpangkat tinggi, sehingga penunjukannya sebagai pemimpin tertinggi menjadi sorotan banyak pengamat politik internasional.
Proses Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran
Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran dilakukan oleh Assembly of Experts, lembaga ulama yang memiliki kewenangan menentukan pemimpin tertinggi negara tersebut.
Sejak berdirinya Republik Islam Iran pada 1979, majelis ini hanya pernah memilih pemimpin baru satu kali sebelumnya, yakni ketika Ruhollah Khomeini wafat dan digantikan oleh Ali Khamenei.
Penunjukan Mojtaba Khamenei kini menandai babak baru dalam kepemimpinan Iran, sekaligus memunculkan berbagai spekulasi mengenai arah kebijakan politik dan keamanan negara tersebut di tengah konflik kawasan yang semakin kompleks.



















