Profil Mojtaba Khamenei, Putra Ali Khamenei yang Kini Memimpin Iran

Mojtaba Khamenei (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Majelis Ahli Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran, menggantikan ayahnya Ali Khamenei. Pengumuman tersebut disampaikan melalui siaran televisi nasional pada Senin (9/3/2026).
Dalam pernyataan resmi yang dibacakan penyiar televisi pemerintah, Majelis Ahli menegaskan bahwa proses pemilihan pemimpin tertinggi tetap berjalan meskipun Iran sedang menghadapi situasi konflik dan ancaman keamanan dari luar negeri.
Majelis Ahli juga mengungkap bahwa serangan bom yang menargetkan kantor Sekretariat lembaga tersebut sebelumnya menewaskan sejumlah staf dan personel keamanan. Meski begitu, serangan tersebut tidak menghentikan proses penunjukan pemimpin baru.
Majelis Ahli Punya Wewenang Pilih Pemimpin Tertinggi
Majelis Ahli Iran merupakan lembaga ulama beranggotakan 88 orang yang memiliki kewenangan konstitusional untuk memilih serta mengawasi Pemimpin Tertinggi Iran.
Setelah pernyataan resmi dibacakan, penyiar televisi nasional menyerukan kalimat “Allahu Akbar” dan menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei kini menjadi pemimpin negara tersebut.
Pengumuman itu juga diperkuat oleh dukungan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah, IRGC menyebut Mojtaba sebagai sosok ulama yang memiliki pemahaman mendalam terhadap persoalan politik dan sosial.
IRGC juga menyatakan kesetiaan penuh kepada pemimpin baru tersebut dan menegaskan kesiapan anggotanya untuk menjalankan perintah Pemimpin Tertinggi.
Sosok Mojtaba Khamenei yang Selama Ini Jarang Tampil di Publik
Berbeda dengan ayahnya, Mojtaba Khamenei selama ini dikenal jarang tampil di hadapan publik. Ia tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan dan hampir tidak pernah memberikan pidato atau wawancara kepada media.
Meski demikian, berbagai laporan menyebutkan bahwa pengaruh Mojtaba di lingkaran kekuasaan Iran sudah lama diperbincangkan. Ia kerap disebut sebagai figur yang memiliki akses langsung dan pengaruh besar terhadap ayahnya ketika masih menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi.
Dokumen diplomatik Amerika Serikat yang pernah bocor melalui WikiLeaks bahkan menggambarkan Mojtaba sebagai “kekuatan di balik layar” dalam struktur kekuasaan Iran.
Latar Belakang Pendidikan dan Karier Keagamaan
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, sebuah kota di timur laut Iran. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara dalam keluarga Khamenei.
Pendidikan menengahnya ditempuh di Sekolah Alavi di Teheran. Saat berusia sekitar 17 tahun, ia juga sempat terlibat dalam kegiatan militer selama Perang Iran-Irak yang berlangsung antara 1980 hingga 1988.
Pada tahun 1999, Mojtaba melanjutkan pendidikan agama di kota suci Qom, yang dikenal sebagai pusat studi teologi Syiah di Iran. Ia baru mengenakan pakaian ulama pada periode tersebut, sebuah langkah yang dianggap tidak lazim karena banyak ulama biasanya menempuh jalur pendidikan agama sejak usia muda.
Sebelum ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba dikenal sebagai ulama dengan tingkat keilmuan menengah. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah media Iran mulai menyebutnya dengan gelar Ayatollah, yang dianggap dapat memperkuat legitimasi religiusnya.
Potensi Kontroversi di Dalam Negeri
Penunjukan Mojtaba Khamenei diperkirakan akan memicu perdebatan di dalam negeri. Sejak berdirinya Republik Islam Iran melalui Revolusi Iran 1979, kepemimpinan tertinggi negara itu secara prinsip tidak didasarkan pada garis keturunan.
Karena itu, sebagian kalangan menilai pengangkatan putra dari pemimpin sebelumnya berpotensi memunculkan kritik bahwa sistem republik tersebut berubah menjadi model kepemimpinan turun-temurun.
Meski demikian, para pengamat menilai Mojtaba kemungkinan besar akan melanjutkan kebijakan keras yang selama ini dijalankan oleh ayahnya, terutama dalam menghadapi tekanan dari negara-negara Barat.
Ke depan, tantangan utama bagi Mojtaba Khamenei adalah menjaga stabilitas politik Iran sekaligus meyakinkan publik bahwa dirinya mampu memimpin negara di tengah krisis ekonomi, tekanan internasional, serta ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER
























