AS Disebut Dorong UEA Rebut Pulau Iran, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas

Pulau Lavan (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Sejumlah pejabat United States dilaporkan mendorong United Arab Emirates untuk merebut salah satu pulau strategis milik Iran di kawasan Teluk Persia.
Laporan media Inggris The Telegraph menyebut pulau yang menjadi target adalah Pulau Lavan, salah satu pusat ekspor minyak lepas pantai utama Iran yang memiliki fasilitas kilang, penyimpanan minyak, hingga terminal pemuatan tanker.
Selain menjadi jalur energi penting, Pulau Lavan juga diketahui berada di atas cadangan gas alam besar yang memiliki nilai strategis tinggi bagi Iran.
Menurut laporan tersebut, usulan itu muncul dari sejumlah tokoh yang dekat dengan lingkaran pemerintahan Donald Trump. Mereka disebut mendorong agar UEA mengambil peran militer lebih besar untuk mengurangi keterlibatan langsung pasukan AS dalam konflik kawasan.
Seorang mantan pejabat keamanan era Trump bahkan disebut menyarankan agar Emirat segera mengambil alih pulau tersebut dengan mengerahkan pasukan mereka sendiri, bukan tentara Amerika Serikat.
Laporan itu muncul di tengah meningkatnya biaya perang yang ditanggung Washington dalam konflik melawan Iran. Pentagon dilaporkan telah menghabiskan sekitar US$29 miliar atau setara lebih dari Rp500 triliun untuk operasi militer dan pertahanan udara selama beberapa bulan terakhir.
Penggunaan sistem pertahanan seperti THAAD, Patriot, dan rudal Tomahawk secara intensif disebut mulai menguras stok persenjataan Amerika Serikat.
Situasi tersebut mendorong Pentagon mempercepat produksi persenjataan baru, termasuk senjata berbiaya rendah dari perusahaan pertahanan modern untuk mengisi kembali inventaris militer mereka.
Di sisi lain, sejumlah negara sekutu AS di Eropa seperti Jerman, Spanyol, dan Inggris dilaporkan mulai menjaga jarak dari konflik Iran dan enggan terlibat lebih jauh dalam operasi militer kawasan.
Sementara itu, UEA disebut menjadi salah satu sekutu regional yang paling aktif mendukung Washington dan Israel selama konflik berlangsung. Teheran bahkan menuduh Abu Dhabi menjadi basis operasi militer musuh di kawasan Teluk.
Ketegangan geopolitik Timur Tengah pun diperkirakan akan terus meningkat apabila rencana keterlibatan militer baru di kawasan tersebut benar-benar direalisasikan.


















