Tuesday, June 30, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

1.000 Kematian di Prancis Akibat Gelombang Panas Ekstrem

Mistar.idSelasa, 30 Juni 2026 pukul 09.05 WIB
1000_kematian_di_prancis_akibat_gelombang_panas_ekstrem

Gelombang panas yang melanda Eropa membuat jutaan warga di Prancis kepanasan di apartemen yang minim insulasi, sekolah, hingga panti jompo. (Foto: AFP/Lionel Bonaventure)

news_banner

Paris, MISTAR.ID - Otoritas kesehatan Prancis melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih selama periode gelombang panas, dengan sebagian besar korban berusia di atas 65 tahun. Jumlah tersebut diperkirakan masih dapat bertambah seiring proses pengumpulan data.

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak 20 Juni 2026 memicu gangguan di berbagai sektor, mulai dari transportasi, layanan kesehatan, hingga pasokan listrik.

Suhu di sejumlah negara seperti Jerman, Polandia, Republik Ceko, Denmark, dan Hungaria menembus 40 derajat Celsius. Di Jerman, suhu bahkan tercatat lebih dari 41 derajat Celsius, memecahkan rekor nasional.

Cuaca panas mengganggu operasional transportasi. Sejumlah layanan kereta di Jerman dikurangi karena suhu tinggi memengaruhi kondisi rel, sementara operasional trem di beberapa kota dihentikan sementara. Di Swedia, rel kereta dilaporkan melengkung akibat panas.

Di sektor energi, beberapa reaktor nuklir di Prancis dan Swiss mengurangi kapasitas operasinya karena meningkatnya suhu air sungai yang digunakan sebagai pendingin.

Sementara di Italia, menurutnya debit Sungai Po menyebabkan air laut masuk ke aliran sungai sehingga meningkatkan kadar garam dan mengganggu sektor pertanian.

Rumah sakit di berbagai negara juga melaporkan peningkatan jumlah pasien akibat dehidrasi, serangan panas (heat stroke), serta memburuknya penyakit kronis.

Para ilmuwan menyebut gelombang panas kali ini dipicu oleh fenomena heat dome, yakni area bertekanan tinggi yang memerangkap udara panas di atmosfer. Namun, mereka menilai perubahan iklim akibat aktivitas manusia menjadi faktor utama yang membuat suhu ekstrem tersebut terjadi.

Hasil kajian para peneliti menyebut gelombang panas yang terjadi pada Juni 2026 hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh pemanasan global. Suhu malam yang sangat panas kini diperkirakan sekitar 100 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan sekitar dua dekade lalu.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan sekitar 150 juta orang kini hidup dalam kondisi panas ekstrem. Menurutnya, ratusan orang meninggal dunia, sekolah ditutup, dan jaringan listrik mulai kewalahan akibat dampak cuaca tersebut.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan pusat gelombang panas kini bergeser ke wilayah Eropa Tengah dan kawasan Balkan. Meski suhu mulai menurun di sebagian Eropa Barat, dampaknya terhadap kesehatan diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. (hm25)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN