Penjualan Seragam Sekolah di Pasar Horas Turun 50 Persen

Salah satu pedagang pakaian sekolah di Pasar Horas. (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID - Suasana lorong-lorong Pasar Horas Kota Pematangsiantar jelang tahun ajaran baru 2026/2027 tak lagi seriuh biasanya. Hingga Senin (6/7/2026), aktivitas di salah satu pasar tradisional terbesar di Pematangsiantar ini masih terlihat lengang.
"Penjualan menurun drastis dibanding tahun sebelumnya, turun hingga 50 persen," keluh bermarga Tambunan, salah seorang pedagang seragam di Pasar Horas, kepada Mistar.
Menurutnya, lesunya pasar kali ini merupakan hantaman dari dua arah, yakni jepitan ekonomi global yang membuat harga kebutuhan pokok melonjak serta migrasi besar-besaran konsumen ke pasar digital (marketplace).
"Memang kondisi ekonomi kita sedang tidak baik. Ditambah lagi harga-harga semua naik, mulai dari bahan pokok sampai harga plastik. Jadi masyarakat bingung, mau masuk sekolah bagaimana mau beli baju baru lagi kalau semua serba mahal," tuturnya dengan nada pasrah.
Padahal, para pedagang mengaku tidak menaikkan harga demi menyiasati keadaan. Satu setel seragam sekolah masih dibanderol mulai Rp70 ribu. Harga tersebut pun masih bisa digoyang alias ditawar. Namun, patokan harga yang longgar itu tetap belum mampu menarik minat orang tua murid untuk singgah.
Nestapa serupa menjalar ke los penjualan sepatu dan tas sekolah. Sutan, seorang pedagang sepatu di Pasar Horas, mengakui bahwa dalam sehari ia sering kali hanya mampu menjual satu atau dua pasang sepatu.
"Sepatu ya laku satu-dua saja sehari. Beda jauh kondisinya sejak ada toko online. Sekarang paling kalau musim liburan ada agak mendingan, tetap ada yang beli, tapi kebanyakan ya beralih ke online, mungkin karena di sana jauh lebih murah," ungkap Sutan.
Ironisnya, keunggulan pasar tradisional yang memungkinkan pembeli mencoba barang secara langsung kini mulai dikesampingkan. Padahal, untuk barang seperti sepatu sekolah, ukuran yang presisi sangat krusial agar nyaman dipakai anak-anak belajar.
"Kalau sepatu kan sebenarnya harus dicoba langsung biar pas. Tas juga biasanya saya tawarkan kualitasnya langsung. Tapi ya mau bagaimana, banyak masyarakat yang rupanya sudah pesan duluan lewat aplikasi online di ponsel mereka," tambah Sutan.
Meski terjepit di antara himpitan dompet warga yang menipis dan algoritma belanja daring, para pedagang Pasar Horas enggan patah arang. Mereka masih menaruh asa pada sisa hari menjelang puncak masuk sekolah.
Mereka berharap ada gelombang pembeli yang rindu akan esensi belanja konvensional: menyentuh kain, mencoba pasnya ukuran sepatu, dan merasakan hangatnya interaksi tawar-menawar yang tidak akan pernah bisa ditemukan di balik layar ponsel. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Level Rp18.000, Ini Sebabnya























