Mengenal Silvia Gea, Anak Muda Penggerak Peduli Lingkungan di Sumut

Silvia Decmerry Natalia Gea, aktivis lingkungan Sumatera Utara disela-sela proyek Bank Sampah Horas Bah (Hayu Olah Sampah Menjadi Berkah) di Kampung Nelayan Seberang, Medan Belawan (Foto: Istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Namanya Silvia Decmerry Natalia Gea, perempuan kelahiran Gunungsitoli, Nias, merupakan anak muda penggerak peduli lingkungan di Sumatera Utara (Sumut).
Anak pertama dari lima bersaudara ini mengaku sudah mendalami isu lingkungan sejak 2019. Bahkan, ia memiliki komunitas bernama Ecoeducare yang dibentuknya pada 2024.
Penelitian skripsinya yang berjudul Implementasi Perda Kota Medan Nomor 6 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Persampahan terhadap Program Daur Ulang dan Pengurangan Sampah di Kota Medan, membuat perhatiannya terhadap lingkungan semakin kuat.
Founder Ecoeducare pernah membawa komunitasnya meraih penghargaan Muda30 Changemaker sebagai salah satu pemimpin muda yang menginspirasi dari seluruh Indonesia pada akhir 2025 lalu.
Keberhasilannya mengembangkan komunitas peduli lingkungan tersebut membuat banyak perusahaan besar, seperti Pertamina dan Pelindo, mulai melirik untuk menjalin kerja sama.
"Penghargaan-penghargaan yang saya dapatkan adalah pengingat dan penguat untuk terus menjaga konsistensi gerakan, memperluas program, dan memperdalam dampak," katanya kepada Mistar, Senin (6/7/2026).
Sejak kecil, Silvi sudah diajarkan untuk peduli terhadap lingkungan oleh kedua orang tuanya yang berasal dari suku Batak dan Nias. Ia juga berharap anak-anak muda, pelajar, komunitas, maupun masyarakat dapat menyadari pentingnya menjaga lingkungan sejak dini. Apalagi, saat ini tengah marak pemberitaan mengenai krisis iklim.
Pada 2019 hingga 2022, Silvi pernah menjadi Leader World Cleanup Day Gunungsitoli, kemudian berlanjut menjadi Leader World Cleanup Day Sumut pada 2023. Ia juga pernah menjadi Delegasi Indonesia dalam World Cleanup Day Impact and Sustainable Asia Conference di Malaysia.
Melalui langkah-langkah kecilnya itu, perempuan kelahiran 2002 tersebut berharap generasi muda Indonesia, khususnya Sumut, dapat percaya bahwa tidak harus menunggu menjadi besar untuk mulai menjadi pribadi yang berdampak.
"Mulailah dari tempat kita berpijak," tuturnya sembari tersenyum.
Saat ini, komunitasnya telah memiliki puluhan anggota yang berasal dari kalangan mahasiswa maupun pekerja di Kota Medan yang juga peduli terhadap lingkungan.
Hingga kini anak pertama dari Y. Gea dan R. Siallagan tersebut terus meningkatkan kapasitasnya untuk membawa perubahan besar bagi lingkungan di Sumut.
"Semua tahapan yang kulalui semakin memperkuat rasa percaya diriku bahwa anak muda Indonesia, dan kita perempuan, mampu berperan besar dalam membawa solusi terhadap perubahan iklim," kata alumni Universitas HKBP Nommensen Medan itu.
Bersama timnya, pegiat lingkungan ini juga membuat proyek Bank Sampah Horas Bah (Hayu Olah Sampah Menjadi Berkah) di Kampung Nelayan Seberang, Medan Belawan. Proyek tersebut berfokus pada pengelolaan dan daur ulang sampah serta edukasi kepada masyarakat setempat bahwa limbah yang mencemari laut dapat diubah menjadi sumber penghasilan baru.
Tak hanya itu, komunitasnya juga menjalin kerja sama dengan banyak hotel melalui program Pesona, di mana sampah dari hotel-hotel tersebut akan disalurkan ke bank sampah. Hasilnya kemudian digunakan sebagai sumber dana untuk menyelenggarakan kegiatan edukasi bagi masyarakat.
Hal itu membuatnya semakin mengingat motivasi awalnya untuk memajukan Kota Gunungsitoli, Nias, dengan membantu mengatasi permasalahan sampah yang dibuang sembarangan di pesisir pantai.
Kini, Silvi bersama timnya sedang mempersiapkan kegiatan berupa kampanye go green bersama salah satu pusat perbelanjaan di Kota Medan. Ia berharap semakin banyak anak muda, terutama Generasi Z, yang turut berkontribusi dalam mewujudkan lingkungan yang sehat dan hijau. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Bobby Nasution Buka Suara Soal OTT KPK Bupati Langkat























