Monday, July 6, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Jelang Tahun Ajaran Baru, Penjualan Buku dan Alat Tulis di Pasar Horas Lesu

Mistar.idSenin, 6 Juli 2026 pukul 15.12 WIB
jelang_tahun_ajaran_baru_penjualan_buku_dan_alat_tulis_di_pasar_horas_lesu

Pedagang buku dan alat tulis di Pasar Horas menunggu pembeli menjelang tahun ajaran baru 2026/2027. (Foto: Abdi/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID - Menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027, permintaan buku dan alat tulis lesu di Pasar Horas, Kota Pematangsiantar. Pedagang mengaku omzet mereka merosot akibat masyarakat yang kini lebih memilih berbelanja melalui pasar digital (marketplace).

Buyung, pedagang buku tulis yang telah belasan tahun berjualan di Pasar Horas, mengatakan kondisi saat ini jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, dua pekan sebelum masuk sekolah, lapaknya dipadati pembeli. Namun kini, aktivitas jual beli justru terlihat sepi.

"Biasanya kalau udah dua minggu sebelum masuk sekolah, rame sekali ini tempat. Kadang saya sampai nggak sempat makan, berdiri terus layani pembeli. Sekarang, duduk-duduk saja kita, nunggu pembeli lewat. Kadang ada yang cuma tanya harga, terus pergi," ujarnya, Senin (6/7/2026).

Menurut Buyung, ia telah menyiapkan stok buku tulis sejak sebulan lalu untuk menyambut musim belanja perlengkapan sekolah. Namun, tingginya persaingan dengan toko daring membuat penjualan tidak sesuai harapan.

"Sekarang ini kan zamannya HP. Tinggal klik-klik saja, datang ke rumah. Jadinya orang malas ke pasar. Saingan kita bukan cuma di pasar sebelah, tapi juga di Shopee, Tokopedia, yang kayak gitu-gitu," katanya.

Selain persaingan dengan marketplace, Buyung menyebut jumlah pedagang buku tulis musiman di dalam Pasar Horas juga semakin banyak sehingga persaingan mendapatkan pembeli semakin ketat.

Keluhan serupa disampaikan Rina, pedagang alat tulis di Pasar Horas. Ia mengaku penjualan pensil, pulpen, penghapus, dan perlengkapan sekolah lainnya belum menunjukkan peningkatan meski tahun ajaran baru tinggal menghitung hari.

"Kalau dulu, kami sampai panggil anak-anak bantu layani. Orang tua belanja buku, beli pensil, penghapus, penggaris. Sekarang, Ya Allah, kayak bukan musim masuk sekolah. Sepi sekali. Kadang sehari cuma laku beberapa kotak," ujarnya.

Untuk mempertahankan pelanggan, para pedagang memilih tidak menaikkan harga dan rela mengambil keuntungan yang lebih tipis agar perputaran modal tetap berjalan.

"Yang penting muter uangnya. Untung tipis tidak apa-apa, asal dagangan jalan," tutur Rina.

Meski kondisi pasar masih lesu, para pedagang tetap berharap penjualan meningkat dalam beberapa hari menjelang dimulainya kegiatan belajar mengajar, sehingga modal yang telah dikeluarkan dapat kembali. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN