Monday, July 6, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Pentingkah Pendidikan Indonesia Beradaptasi dengan AI? Ini Penjelasan Akademisi

Mistar.idSenin, 6 Juli 2026 pukul 16.47 WIB
pentingkah_pendidikan_indonesia_beradaptasi_dengan_ai_ini_penjelasan_akademisi

Seorang pekerja swasta sedang mencari informasi tambahan menggunakan AI atau ChatGPT. (foto:Susan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID (6/7/2026) – Penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan saat ini menjadi topik yang hangat dibahas. Pasalnya, AI semakin melekat dalam kehidupan manusia, terutama di dunia kerja, bahkan mulai diposisikan layaknya personal computer pada masanya.

Bahkan, pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) dipastikan akan menjadi bagian dari prioritas pendidikan nasional mulai 2027. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyebutkan kebijakan ini merupakan salah satu upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja, terutama pada era digital.

Namun, sampai sejauh mana AI akan memengaruhi pendidikan di Indonesia? Berikut pandangan Akademisi LSPR Communication and Business Institute Jakarta, Ari S. Widodo Poespodihardjo.

Pengamat pendidikan tersebut menekankan bahwa AI bukanlah sesuatu yang baru. Menurutnya, gagasan mengenai AI telah muncul sejak 1950 melalui pemikiran Alan Turing, tokoh yang dikenal sebagai pelopor ilmu komputer modern.

"Yang kita lihat saat ini adalah hasil evolusi puluhan tahun yang menjelma dalam bentuk yang kita lihat sekarang," katanya kepada Mistar, Senin (6/7/2026).

AI, kata Ari, merupakan evolusi yang terus berlanjut dan suatu saat dapat berganti rupa maupun bentuk. Yang menjadi pertanyaannya adalah seberapa cepat perubahan tersebut terjadi, apakah dalam hitungan hari, minggu, atau bulan.

Ia menjelaskan bahwa perangkat keras komputer memiliki usia kebaruan yang relatif singkat, sekitar enam bulan. Artinya, dalam kurun waktu tersebut, perangkat yang beredar di pasaran umumnya sudah mulai digantikan oleh teknologi yang lebih baru.

"Karena sebuah evolusi, apa yang akan menggantikan hampir pasti berakar dari apa yang sudah ada. Ini penting sekali untuk dipahami," tuturnya.

Pendidikan Harus Beradaptasi dengan AI?

Menjawab pertanyaan mengenai pentingnya pendidikan di Indonesia beradaptasi dengan ekosistem AI, Ari mencontohkan penggunaan kalkulator. Menurutnya, dahulu banyak yang khawatir kalkulator membuat siswa tidak lagi mampu berhitung maupun menghafal rumus. Namun, faktanya di negara-negara maju, kalkulator justru dimanfaatkan karena mampu membantu proses perhitungan secara lebih akurat selama data yang dimasukkan benar.

Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan seharusnya mendorong manusia terus mempertanyakan batas-batas pengetahuan yang ada, bukan sekadar menerima bahwa batas tersebut tidak dapat ditembus.

"Seperti halnya kutipan Jurassic Park: You can't contain life like that. Life will find a way," ucapnya.

Ia juga menyinggung serial Person of Interest yang menggambarkan bagaimana AI berkembang. Menurut Ari, AI bukan sekadar program komputer, melainkan sistem yang memiliki kemampuan belajar dan berkembang berdasarkan data yang diterimanya.

"Masalahnya, berbeda dengan manusia, kemampuan mesin untuk belajar ini tidak memiliki keterbatasan fisik seperti yang dimiliki manusia," kata dosen LSPR Jakarta itu.

Pada satu titik, lanjutnya, AI berpotensi mampu berpikir secara mandiri karena proses yang digunakan merupakan replikasi dari algoritma berpikir manusia. Semakin banyak AI belajar, semakin besar pula kemampuannya.

"Apakah ini akan membuat manusia menjadi tidak berguna? Tidak. Manusia akan tetap memiliki perannya. Namun, di sinilah pemikiran dan debat akademik filosofis justru sangat diperlukan," tuturnya.

Menurut Ari, hampir semua pihak sepakat bahwa AI merupakan alat bantu yang sangat luar biasa. AI mampu membantu banyak proses yang sebelumnya sulit dilakukan serta membuka peluang baru bagi perkembangan manusia. Namun, ia mengingatkan bahwa seluruh pemanfaatannya tetap harus berada dalam supervisi manusia.

Lima Hal yang Harus Dilakukan Manusia di Era AI

Ari menyebutkan sedikitnya ada lima hal yang perlu dilakukan manusia dalam menghadapi era AI.

Pertama, memahami apa itu AI. Menurutnya, pemahaman tersebut harus mulai diajarkan di sekolah dan menjadi bagian dari proses pendidikan di semua jenjang.

"Kedua, manusia harus tetap menjadi manusia. AI adalah alat bantu, bukan pengganti manusia. Ada banyak kualitas manusia yang harus dijaga dan terus ditingkatkan," katanya.

Ketiga, memperkuat pendidikan yang mengajarkan esensi dasar manusia, seperti matematika, fisika, dan filsafat.

"Sekali lagi, bukan dalam arti menghafalkan rumus, tetapi memahami esensi dan makna prosesnya. Pelajaran seni dan bahasa juga wajib dipelihara," ujarnya.

Keempat, memperkuat pendidikan jasmani. Menurutnya, kemudahan teknologi sering kali mendorong pola hidup yang tidak seimbang. Ia mencontohkan Jepang, yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kesehatan masyarakat melalui aktivitas fisik yang rutin.

Terakhir, berhenti memandang AI sebagai teknologi yang mampu melakukan segalanya. Menurut Ari, kondisi tersebut justru berbahaya jika membuat manusia menjadi malas berkembang. AI seharusnya dikaji secara mendalam untuk mengetahui sejauh mana potensinya dalam membantu memajukan kehidupan manusia.

"Intinya, saya tidak melihat pembelajaran AI itu harus melalui coding karena Jensen Huang sendiri menyatakan coding nantinya akan dilakukan oleh AI itu sendiri," ucapnya.

Yang terpenting, menurut Ari, adalah kemampuan berpikir kritis dan mendalam untuk melihat ke mana AI dapat membantu kehidupan manusia pada masa depan. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN