Pengamat UISU Ungkap Tiga Penyebab Antrean Panjang BBM di SPBU Sumut Meski Pertamina Tambah Armada

Antrean pengendara di salah satu SPBU di Kota Medan. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID – Pernyataan PT Pertamina (Persero) mengenai penambahan armada mobil tangki untuk pendistribusian bahan bakar minyak (BBM) belum mampu mengatasi antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Sumatera Utara, termasuk Kota Medan.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengungkapkan sejumlah temuan di lapangan. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan bersama timnya di beberapa SPBU di kawasan Jalan Sisingamangaraja (SM Raja), Aksara, dan Letda Sujono, persoalan yang terjadi dinilai lebih kompleks daripada sekadar kendala teknis pengiriman BBM.
"Hasil diskusi saya dengan pengelola dan masyarakat, ada tiga masalah utama, yaitu migrasi dari Pertalite ke Pertamax, panic buying, dan minimnya sopir pengangkut BBM," katanya, Kamis (16/7/2026).
Menurut Gunawan, ketiga faktor tersebut saling tumpang tindih sehingga menciptakan efek bola salju (snowball effect) terhadap krisis distribusi BBM di Sumut.
"Ketika Pertalite langka dan antrean mengular, konsumen akhirnya terpaksa membeli Pertamax meskipun harganya lebih mahal. Ujungnya, stok kedua jenis BBM itu habis secara bersamaan," ujarnya.
Gunawan juga menilai langkah Pertamina yang meminta bantuan sopir dari TNI dan Polri menunjukkan adanya kendala teknis akibat keterbatasan jumlah pengemudi mobil tangki.
Selain itu, ia mengaku menemukan adanya pembelian BBM secara berulang menggunakan kendaraan bertangki besar yang diduga dilakukan spekulan. Di sisi lain, masyarakat juga berlomba-lomba mengisi tangki kendaraan hingga penuh karena terpengaruh spekulasi yang beredar di media sosial, mulai dari isu penutupan Selat Hormuz hingga pemadaman listrik massal beberapa waktu lalu.
Pertamina sebelumnya menyebut telah menyalurkan BBM hingga 104 persen dari target harian. Menurut Gunawan, jika konsumsi hanya meningkat sekitar 5 hingga 10 persen karena tahun ajaran baru, seharusnya kondisi tersebut tidak menimbulkan antrean sepanjang yang terjadi saat ini.
"Fenomena ini menjadi bukti bahwa memang terjadi panic buying dan ada motif ekonomi di balik kasus ini," katanya.
Meski demikian, Gunawan mengapresiasi langkah Pertamina yang mengoperasikan terminal BBM selama 24 jam dan menambah armada mobil tangki hingga 115 persen. Namun, upaya tersebut tidak akan efektif tanpa edukasi kepada masyarakat serta intervensi pemerintah.
"Tidak akan berjalan baik kalau tidak ada dukungan dari masyarakat dan pemerintah. Akan sulit jika masyarakat tetap melakukan panic buying dan spekulan memanfaatkan situasi," ujarnya.
Gunawan juga meminta pemerintah pusat memastikan ketersediaan pasokan BBM secara makro di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia. Menurutnya, mengurai antrean di daerah saja tidak cukup jika akar persoalan pasokan belum diselesaikan.
PREVIOUS ARTICLE
Sabun Cuci Kemasan Sachet Mulai Langka di Grosir Medan























