Pemotongan Sapi Kurban Naik 2,38 Persen, Sinyal Daya Beli Warga Sumut Mulai Tertekan

Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin. (Foto: Istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Melambatnya pertumbuhan pemotongan sapi kurban pada Iduladha 2026 menjadi indikator baru mengenai adanya tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat Sumatera Utara (Sumut).
Jika pada tahun lalu jumlah pemotongan sapi mampu tumbuh hingga belasan persen, tahun ini kenaikannya hanya mencapai 2,38 persen. Angka ini mencerminkan konsumsi rumah tangga yang mulai tertahan.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menyebutkan data kompilasi dari David Yasin Consulting yang mengambil sampel dari 513 masjid dan musala di wilayah Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan, tercatat jumlah pemotongan sapi kurban tahun ini mengalami kenaikan sebesar 2,38 persen.
Namun, Gunawan menilai angka pertumbuhan ini melemah secara signifikan jika dibandingkan dengan performa tahun 2025 yang mampu mencatatkan lonjakan pertumbuhan hingga belasan persen.
Melandainya grafik ini menjadi indikator kuat bahwa masyarakat tengah memperketat pengeluaran.
Gunawan menyimpulkan ada tiga faktor utama yang membuat para peternak hewan kurban di Sumut kompak merasakan penurunan omzet drastis tahun ini.
Faktor pertama adalah dominasi sistem arisan dan tabungan inden. Sebagian besar sapi yang dipotong di masjid tahun ini merupakan hasil perencanaan matang masyarakat sejak tahun 2025 melalui sistem kelompok atau arisan kurban.
Skema ini memberikan kepastian pasokan bagi peternak sejak jauh hari, sehingga kuota pemotongan tetap terjaga stabil. Faktor kedua berkaitan dengan minimnya serapan pasar untuk sapi reguler di luar kuota inden.
Keluhan sepinya pembeli mencuat dari stok sapi tambahan yang sengaja disediakan peternak di lapak musiman untuk menjaring pembeli dadakan atau perorangan.
Di sektor inilah penjualan anjlok karena peternak terlanjur memasang ekspektasi tinggi bisa mengulang kesuksesan pertumbuhan belasan persen seperti tahun lalu.
"Faktor ketiga, pedagang sapi tidak mendapatkan margin harga yang pantas karena belakangan harga sapi bakalan impor naik tinggi. Bahkan, harga daging sapi di tahun ini sudah melambung ke kisaran Rp140.000 hingga Rp150.000 per kilogram, padahal tahun lalu masih bisa berada di kisaran Rp120.000 hingga Rp130.000 per kilogram. Kondisi modal yang mahal ini membuat kinerja penjualan luar biasa melemah," kata Gunawan, Senin (8/6/2026).
Secara keseluruhan, Gunawan menilai pergerakan angka ini menjadi cerminan nyata bahwa konsumsi dan belanja masyarakat di luar kebutuhan pokok benar-benar tengah direm akibat situasi ekonomi yang kurang bersahabat.
Dugaan melemahnya pembelian sapi dari masyarakat mandiri atau di luar sistem arisan mempertegas adanya ruang finansial kelas menengah ke bawah sedang tertekan.
Sektor peternakan mau tidak mau harus ikut menanggung imbas dari pengetatan ikat pinggang yang dilakukan konsumen.
“Meskipun ibadah kurban tidak mengenal kriteria batasan ekonomi mampu secara kaku dan selalu memicu antusiasme tinggi dari kelas ekonomi manapun, ketatnya likuiditas keuangan memaksa masyarakat untuk lebih realistis dalam mengatur skala prioritas belanja rumah tangga,” tuturnya. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Harga MinyaKita Normal, Tapi Langka di Kota MedanBERITA TERPOPULER























