BPS Sumut Catat Inflasi Juni 2026 Sebesar 0,23 Persen, Gunungsitoli Tertinggi

Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, memaparkan inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,23 persen. (foto:amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID (1/7/2026) — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mencatat inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,23 persen dan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 4,79 persen.
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, memaparkan inflasi tahunan tersebut ditandai dengan peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,08 pada Juni 2025 menjadi 113,26 pada Juni 2026.
“Tingkat inflasi bulanan Juni 2026 sebesar 0,23 persen, sementara tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) berada di 0,90 persen,” katanya, Rabu (1/7/2026).
Sebagai perbandingan, tingkat inflasi tahunan pada Juni 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni 2024 sebesar 3,35 persen dan 2025 sebesar 1,25 persen.
Inflasi tahunan ini didorong oleh kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran. Tertinggi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 9,55 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 7,57 persen, serta kelompok transportasi sebesar 4,75 persen.
Secara spesifik, komoditas utama yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan di Sumut pada Juni 2026 adalah emas perhiasan sebesar 0,53 persen, cabai merah 0,41 persen, bensin 0,18 persen, beras dan cabai rawit masing-masing 0,17 persen, serta ikan tongkol/ambu-ambu, tomat, dan minyak goreng masing-masing 0,16 persen.
Sementara itu, komoditas penyumbang deflasi pada Juni 2026 antara lain detergen cair, popok bayi, daging babi, dan ketimun masing-masing 0,02 persen, serta kangkung, kentang, kemeja pria, kacang panjang, dan sabun cuci piring masing-masing 0,01 persen.
“Jika dilihat dari pergerakan harga Juni terhadap Mei 2026, pendorong utama inflasi bulanan yaitu bensin sebesar 0,14 persen, bawang putih dan angkutan udara masing-masing 0,08 persen, serta cabai merah dan cabai rawit masing-masing 0,05 persen,” ucapnya.
Asim menambahkan, sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga dan menyumbang deflasi bulanan antara lain tomat sebesar 0,17 persen, daging ayam ras 0,07 persen, serta sawi hijau dan brokoli masing-masing 0,03 persen.
Ia menyebutkan, seluruh kabupaten/kota yang menjadi lokasi perhitungan IHK di Sumut pada Juni 2026 mengalami inflasi tahunan.
Wilayah dengan inflasi tertinggi adalah Kota Gunungsitoli sebesar 6,25 persen dengan IHK 115,71, sedangkan terendah adalah Kabupaten Karo sebesar 4,46 persen dengan IHK 112,84.
Sementara itu, secara bulanan, sebagian besar kabupaten/kota IHK di Sumut juga mengalami inflasi. Rekor inflasi bulanan tertinggi kembali terjadi di Kota Gunungsitoli. (hm27)
























