BPS: Ketimpangan Gender di Sumut Membaik, tapi Kesenjangan Antarwilayah Masih Tinggi

Statistik Ahli Utama BPS Sumut, Misfaruddin. (foto:amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat perbaikan kualitas kesetaraan gender yang konsisten di wilayah tersebut. Berdasarkan rilis data terbaru, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Sumatera Utara tercatat sebesar 0,392 atau turun 0,007 poin dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 0,399.
Statistisi Ahli Utama BPS Sumut, Misfaruddin, menyatakan penurunan ini melanjutkan tren positif perbaikan kesetaraan gender di Sumatera Utara yang telah berlangsung secara beruntun sejak 2020.
Misfaruddin memaparkan, selama enam tahun terakhir IKG Sumatera Utara secara konsisten mengalami penurunan dengan rata-rata sebesar 0,015 poin per tahun. Secara total, indeks ketimpangan gender telah berkurang hingga 0,076 poin sejak 2020.
“Penurunan IKG Sumatera Utara dipengaruhi oleh perbaikan indikator pada dimensi kesehatan reproduksi dan dimensi pasar tenaga kerja. Terutama pada dimensi pasar tenaga kerja, peluang perempuan dan laki-laki untuk memasuki pasar kerja di Sumut kini semakin setara,” kata Misfaruddin di Medan, Senin (18/5/2026).
BPS merinci perkembangan tiga dimensi utama pembentuk IKG di Sumatera Utara. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan meningkat signifikan sebesar 1,26 persen poin menjadi 59,80 persen. Sementara TPAK laki-laki naik 0,60 persen poin menjadi 84,85 persen.
Proporsi perempuan melahirkan hidup tidak di fasilitas kesehatan (MTF) berhasil ditekan menjadi 0,096. Begitu pula angka perempuan melahirkan hidup pertama pada usia kurang dari 20 tahun (MHPK20) yang turun menjadi 0,142.
Namun, dimensi pemberdayaan justru mencatat rapor merah. Keterwakilan perempuan di kursi legislatif menurun 1,02 persen poin menjadi 16,33 persen, sementara laki-laki masih mendominasi dengan porsi 83,67 persen.
Selain itu, persentase penduduk usia 25 tahun ke atas yang berpendidikan SMA atau sederajat juga mengalami penurunan, baik pada laki-laki sebesar 55,64 persen maupun perempuan sebesar 52,01 persen.
“Meskipun dimensi pemberdayaan mencatat penurunan keterwakilan perempuan di parlemen dan persentase lulusan SMA ke atas, jika dibandingkan rata-rata periode 2020–2023, kondisi saat ini secara umum masih jauh lebih baik,” ujar Misfaruddin.
Meski secara akumulatif tingkat provinsi mengalami perbaikan, BPS Sumut memberikan catatan kritis terkait ketimpangan antarwilayah yang masih cukup tinggi.
Dari 33 kabupaten/kota, sebanyak 20 daerah berhasil menekan ketimpangan gender, sementara 13 daerah lainnya justru mengalami kemunduran atau kenaikan IKG.
Kota Pematangsiantar tercatat sebagai daerah dengan tingkat kesetaraan gender terbaik di Sumut dengan angka IKG terendah sebesar 0,129, disusul Kota Tanjungbalai dan Kota Medan yang sama-sama berada di angka 0,132.
Tanjungbalai juga mencatat penurunan ketimpangan gender paling progresif, yakni sebesar 0,211 poin.
Sebaliknya, Kabupaten Padang Lawas menjadi daerah dengan ketimpangan gender tertinggi di Sumut dengan angka IKG mencapai 0,799. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Nias Selatan sebesar 0,599 dan Kabupaten Nias sebesar 0,587.
Sementara itu, lonjakan ketimpangan tertinggi terjadi di Kabupaten Samosir yang naik hingga 0,170 poin.
Secara keseluruhan, baru terdapat 16 kabupaten/kota yang memiliki kondisi ketimpangan gender lebih baik dibandingkan rata-rata provinsi. Sedangkan 17 kabupaten/kota lainnya masih dinilai tertinggal dalam mengejar target kesetaraan gender di Sumatera Utara. (hm27)



















