IHSG Melemah 0,37% ke 6.501,66: Saham BYAN hingga Bank Besar Berguguran

Ilustrasi IHSG. (foto: jawapos/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan, Senin (24/8/2026), di zona merah. Indeks turun 0,37% atau 24,02 poin ke level 6.501,66. Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG mengawali perdagangan di posisi 6.544 dan sempat naik hingga menyentuh level tertinggi 6.551.
Sepanjang perdagangan, sebanyak 259 saham berhasil menguat, sedangkan 367 saham terkoreksi dan 166 saham lainnya bergerak stagnan. Total kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp11.416,17 triliun.
Tekanan terhadap IHSG turut berasal dari sejumlah saham berkapitalisasi besar. PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) menjadi salah satu saham big caps yang mengalami penurunan cukup dalam, yakni 3,21% ke level Rp15.100 per saham.
PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) juga terkoreksi 1,97% menjadi Rp1.990 per saham. Sementara itu, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) turun 1,73% ke Rp3.400. Tekanan juga terjadi pada sektor perbankan. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) turun 1,55%, menjadi salah satu pemberat utama indeks.
Penurunan berikutnya terjadi pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) sebesar 1,34%. Kemudian, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) melemah 0,78%, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) terkoreksi 0,47%.
Sebelumnya, tekanan terhadap saham-saham perbankan besar juga terlihat pada perdagangan sesi pertama. Riset Mirae Asset Sekuritas menyebut pelemahan BBRI, BBNI, BBCA, dan BMRI menjadi salah satu faktor yang membawa IHSG bergerak di zona merah.
Pada penutupan sesi I, IHSG tercatat turun 0,69% atau 45,06 poin ke level 6.481,21.
Menurut riset tersebut, pelemahan IHSG juga sejalan dengan pergerakan sejumlah bursa saham di kawasan Asia. Beberapa pasar saham utama regional seperti Tokyo, Hong Kong, dan Shanghai turut mengalami tekanan hingga perdagangan siang hari.
"Pelemahan juga melanda sebagian bursa utama Asia, seperti Tokyo, Hong Kong, dan Shanghai hingga siang ini," tulis laporan Mirae Asset Sekuritas.
























