Harga Singkong Terjun Bebas, Akademisi Sebut Masalah Utama Ada di Rantai Pasok

Akademisi Universitas Simalungun, Raja M Nainggolan. (foto: abdi/mistar)
Simalungun, MISTAR.ID
Harga singkong yang dibeli dari petani di Kabupaten Simalungun terus merosot hingga November 2025. Saat biaya tanam dan pupuk semakin tinggi, harga jual singkong di tingkat petani hanya berada di kisaran Rp600–Rp800 per kilogram.
Sawal, petani di Kecamatan Tanah Jawa, mengaku terpukul dengan kondisi tersebut. Harga yang diterima jauh di bawah harga normal yang sebelumnya dapat mencapai lebih dari Rp1.000 per kilogram.
“Itu pun masih harga kotor. Setelah dipotong upah kuli, ongkos angkut, dan rafaksi sekitar 10 persen, kami hampir tidak mendapatkan keuntungan,” ujarnya, Selasa (25/11/2025).
Sawal menambahkan, jika harga terus merosot tanpa intervensi pemerintah, kondisi ekonomi petani singkong akan semakin memburuk, terutama bagi mereka yang sepenuhnya bergantung pada komoditas tersebut.
Akademisi Universitas Simalungun, Raja M Nainggolan, membenarkan harga singkong sempat berada di level terendah yaitu Rp600 per kilogram dalam beberapa bulan terakhir.
Padahal, pemerintah telah menetapkan harga terendah singkong di tingkat petani sebesar Rp1.350 per kilogram dengan kandungan tapioka 24 persen, berlaku sejak Januari 2025.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang memengaruhi fluktuasi harga ini. Dari sisi kualitas, hasil panen yang rendah membuat industri pengolahan beralih pada singkong atau tapioka impor yang dinilai lebih baik.
“Rendahnya kualitas membuat serapan industri menurun, sehingga mereka memilih bahan baku impor,” katanya.
Selain itu, dari sisi permintaan, terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap produk berbahan dasar singkong. Kondisi tersebut sangat dirasakan oleh industri olahan singkong dan pelaku UMKM sehingga semakin menekan harga di tingkat petani.
Raja menambahkan, pemerintah perlu memperkuat pengawasan dan pendampingan kepada petani agar kualitas panen sesuai kebutuhan industri. Selain itu, kebijakan impor tapioka perlu dievaluasi agar tidak mematikan produksi lokal.
“Permintaan di setiap daerah berbeda. Karena itu, pengusaha dan petani perlu duduk bersama untuk membenahi persoalan rantai pasok singkong, khususnya di Pematangsiantar dan Simalungun,” ucapnya.
Ia menegaskan, perbaikan rantai pasok serta regulasi impor yang tepat dapat membantu menstabilkan harga dan meningkatkan kesejahteraan petani singkong. (hm24)






















