Friday, June 12, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Sawit dan Kopi Anjlok, Daya Beli Petani Sumut Melorot di Mei 2026

Mistar.idJumat, 12 Juni 2026 13.13
RY
harga_sawit_dan_kopi_anjlok_daya_beli_petani_sumut_melorot_di_mei_2026

Ilustrasi petani kelapa sawit sedang memindahkan sawit di lahan perkebunan sawit. (f:: kompas/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat adanya penurunan pada tingkat kemampuan ekonomi dan daya beli masyarakat petani di wilayah perdesaan sepanjang bulan Mei 2026.

Kondisi ini dipicu oleh rontoknya harga sejumlah komoditas perkebunan unggulan daerah seperti kelapa sawit dan kopi.

Kepala BPS Provinsi Sumatera Utara, Asim Saputra, memaparkan bahwa indikator kemakmuran tersebut tecermin dari grafik Nilai Tukar Petani (NTP) Sumut pada Mei 2026 yang turun 1,56 persen ke level 159,92, jika dibandingkan dengan capaian bulan April 2026 yang sempat bertengger kuat di posisi 162,45.

Asim mengungkapkan, merosotnya angka rata-rata NTP Sumut secara bulanan diakibatkan oleh pelemahan indeks performa yang melanda empat subsektor pertanian sekaligus.

Penurunan terdalam disumbang oleh subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yang amblas 2,78 persen. Selanjutnya diikuti oleh subsektor Perikanan yang menyusut 1,31 persen, subsektor Peternakan turun 0,74 persen, serta subsektor Tanaman Pangan yang melemah tipis 0,73 persen.

"Penurunan indeks pada subsektor perkebunan rakyat menjadi motor utama jatuhnya daya beli petani kita. Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap penurunan ini adalah kelapa sawit, kopi, dan kelapa. Koreksi harga komoditas ekspor tersebut di tingkat global langsung memukul pendapatan riil masyarakat perdesaan," kata Asim, Jumat (12/6/2026).

Selain perkebunan, penurunan pada subsektor pangan didominasi oleh komoditas kacang hijau. Pada lini peternakan, harga ayam ras pedaging dan ayam kampung menjadi pemicu utama.

Sementara di sektor perikanan, penurunan indeks paling signifikan dipengaruhi oleh komoditas ikan tamban, udang laut, serta budidaya lele tawar.

Di tengah lesunya mayoritas sektor, kabar baik justru datang dari para petani holtikultura. Subsektor Tanaman Hortikultura tercatat menjadi satu-satunya sektor yang mengamankan rapor pertumbuhan impresif dengan melonjak sebesar 8,89 persen.

"Sektor hortikultura melompat tinggi ditopang oleh meroketnya harga jual komoditas hortikultura utama di pasar domestik, di antaranya adalah cabai merah, tomat, dan jeruk," ucap Asim.

Meskipun mendongkrak pendapatan petani hortikultura, lonjakan harga komoditas dapur tersebut di sisi lain justru menjadi beban bagi konsumsi rumah tangga petani secara umum.

"BPS mencatat cabai merah, tomat sayur, tomat buah, dan bawang merah menjadi komoditas penyumbang terbesar terhadap kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di seluruh subsektor," ujarnya.

Sejalan dengan penurunan NTP, indikator produktivitas modal yang tecermin melalui Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Sumatera Utara pada Mei 2026 juga kedapatan bergerak mundur.

Angka NTUP Sumut mendarat di posisi 164,03 atau turun sebesar 0,70 persen dibanding capaian NTUP pada bulan April sebelumnya.

Penurunan yang lebih landai dibanding NTP ini menunjukkan bahwa meskipun harga jual produk pertanian jatuh, biaya input produksi dan modal yang dikeluarkan petani masih relatif terkendali.

BPS berharap kestabilan harga komoditas pangan hewani dan perkebunan dapat kembali pulih pada pertengahan tahun seiring dengan penyesuaian regulasi logistik pasca-lebaran. (Amita)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN