Harga Jagung Pipil Tembus Rp7.500 per Kilogram

Petani jagung. (Foto: Antara/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Harga jagung pipil di pasaran saat ini berada di rentang harga Rp7.200 hingga Rp7.500 per kilogram (kg). Kenaikan harga jagung pipil menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pelaku usaha pakan dan peternak. Bahkan diprediksi sulit turun hingga Maret 2026.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyampaikan bahwa mahalnya harga jagung saat ini bukan hanya berpotensi menaikkan harga produk turunan seperti daging dan telur ayam, tetapi juga mendorong perusahaan pakan mencari alternatif.
"Mahalnya harga jagung juga bisa membuat perusahaan pakan ternak mencari sumber bahan pakan baru yang lebih bersahabat harganya. Sejauh ini, perebutan sumber pakan dari olahan singkong (gaplek) mencuat," kata Gunawan, Senin (24/11/2025).
Kondisi ini mulai dirasakan peternak sapi yang mengeluhkan adanya peningkatan permintaan gaplek untuk pakan ternak ayam, khususnya ayam broiler.
Gunawan menyoroti bahwa dampak rentetan kenaikan harga jagung kini mulai menjalar ke sektor peternakan sapi.
"Peternak sapi mulai mengeluhkan dampak rentetan kenaikan harga jagung yang bisa mendorong kenaikan harga pokok produksi sapi potong nantinya. Kenaikan biaya produksi dikhawatirkan akan mendorong kenaikan harga jual daging sapi," ucapnya.
Meskipun konsumsi daging sapi belakangan ini meningkat seiring dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), peternak tetap mengkhawatirkan dua hal utama yang bisa menekan penjualan.
Pertama, konsumsi daging sapi masyarakat di luar program MBG cenderung mengalami penurunan. Kedua, kekhawatiran akan pengalihan sumber bahan pangan protein substitusi yang bisa saja dilakukan oleh dapur MBG.
Gunawan menilai, harga jagung akan sulit ditekan jika pemerintah tidak mengambil langkah impor.
"Saya menilai jika pemerintah tidak melakukan impor jagung, harga jagung masih sulit untuk ditekan," ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa kenaikan harga jagung saat ini mengusik program pemerintah yang tengah berupaya melakukan swasembada produk pertanian.
"Ini menunjukkan bahwa eksekusi program MBG belum sepenuhnya mampu diantisipasi dengan menghasilkan sumber bahan lokal dengan harga yang stabil," tuturnya. (hm20)

























