Harga CPO Global Naik, TBS Petani Sawit Sumut Malah Anjlok

Ilustrasi sawit. (Foto: ABC Australia/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar global tidak beriringan dengan nasib petani kelapa sawit. Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, melihat fenomena petani sawit tidak mendapat keuntungan dari kenaikan harga internasional karena anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat lokal.
Gunawan menjelaskan, harga CPO menunjukkan kenaikam sejak Juli hingga Agustus 2026. Pada Juli, harga CPO bergerak sekitar 4.500 hingga 4.700 ringgit per ton.
Kenaikan itu terus berlanjut hingga Agustus, di mana harga naik sekitar 4.620 hingga 5.020 ringgit per ton. Namun, rata-rata harga CPO secara bulanan (month-to-month/m-to-m) justru dibarengi dengan anjloknya harga jual TBS kelapa sawit milik petani rakyat pada periode yang sama.
"Hal tersebut berdampak pada tergerusnya Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor tanaman perkebunan rakyat. BPS juga mencatat, terdapat penurunan indeks NTP perkebunan rakyat sebesar 0,42 persen, dari posisi 224,31 pada Juli anjlok ke 223,38 pada Agustus," katanya, Kamis (3/9/2026).
Menurut analisisnya, penyebab utama harga TBS ini, tergantung pada siklus panen raya yang terjadi pada Juli hingga Agustus. Kondisi panen raya ini menyebabkan suplai bahan baku menjadi sangat melimpah.
"Akibatnya, ketersediaan stok CPO dalam negeri mengalami surplus tajam di saat harga minyak sawit mentah global merangkak naik. Fenomena ini menunjukkan anjloknya harga TBS dan lesunya daya tukar petani lebih didasarkan oleh pasokan lokal ketimbang faktor harga ekspor," ucapnya.
Ia melihat tekanan kesejahteraan petani tidak akan berlangsung lama. Data produksi mengindikasikan kuantitas minyak kelapa sawit mulai memasuki penurunan sejak akhir Agustus.
"Penurunan kuantitas disebabkan menyusutnya suplai kuantitas TBS itu sendiri, kadar rendemen konversi buah menjadi CPO juga menurun. Makanya, pelemahan nilai tukar petani bersifat sementara karena fenomena siklus panen musiman tidak menjadi indikasi gangguan fundamental industri persawitan," ujarnya.
Gunawan juga memproyeksikan harga jual TBS di tingkat petani dan harga CPO global berpeluang mengalami kenaikan. Proyeksi tersebut didorong besarnya permintaan (demand) pasokan CPO dari India, ditambah potensi menyusutnya ketersediaan suplai di pasar domestik.
Harga CPO dunia, diproyeksikan kembali ke 5.000 ringgit per ton. Dengan skenario ini, kesejahteraan dan nilai tukar petani kelapa sawit berpeluang pulih, asalkan tidak terjadi lonjakan harga pada indeks pengeluaran yang harus dibayar oleh petani.
BERITA TERPOPULER






BERITA TERPOPULER



























