Harga Cabai Meroket di Siantar, Erupsi Sinabung Disebut Ganggu Distribusi dari Karo

Cabai Rawit Merah. (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)
Pematangsiantar, MISTAR.ID – Erupsi Gunung Sinabung disebut menjadi salah satu penyebab terganggunya pasokan cabai ke Kota Pematangsiantar dan sekitarnya. Akibatnya, harga cabai merah, cabai rawit, dan cabai hijau di Pematangsiantar naik menjadi Rp50.000 per kilogram, Selasa (1/9/2026).
Pengamat Ekonomi Universitas Simalungun, Darwin Damanik, mengatakan Kabupaten Karo menjadi salah satu pusat produksi cabai untuk memenuhi kebutuhan Pematangsiantar dan daerah sekitarnya, termasuk Simalungun dan Toba.
"Erupsi Gunung Sinabung memberi dampak besar pada rantai pasok. Jalur distribusi terganggu. Banyak lahan pertanian juga terkena langsung," kata Darwin saat dihubungi Mistar.
Menurut Darwin, selain erupsi Gunung Sinabung, cuaca ekstrem dan anomali curah hujan tinggi turut memperburuk kondisi. Tanaman cabai mudah rusak sehingga banyak lahan mengalami gagal panen atau penurunan produksi secara drastis.
Tekanan terhadap petani juga semakin berat akibat kenaikan harga sarana produksi, seperti pupuk dan obat-obatan pertanian. Kondisi tersebut membuat sebagian pembudidaya mengurangi luas tanam karena keterbatasan modal dan tingginya risiko kerugian.
Untuk menekan kenaikan harga yang semakin membebani masyarakat, Darwin meminta Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) segera mengambil langkah intervensi.
Salah satu langkah cepat menangani masalah ini adalah menjalin Kerja Sama Antardaerah (KAD) dengan membuka jalur pasokan dari daerah penyangga lain yang sedang mengalami panen raya.
Selain itu, pengawasan di pusat perdagangan seperti Pasar Horas dan Pasar Dwikora juga dinilai perlu diperketat untuk mencegah praktik spekulasi harga.
Pemerintah kota juga disarankan membantu membiayai distribusi untuk menekan biaya logistik. Dengan demikian, harga cabai di tingkat konsumen diharapkan kembali stabil.
Terkait Gerakan Pangan Murah (GPM) yang selama ini diandalkan pemerintah, Darwin menilai program tersebut penting, tetapi tidak cukup jika berjalan sendiri. Menurutnya, GPM hanya berfungsi sebagai penanganan darurat jangka pendek agar masyarakat berpenghasilan rendah dapat membeli bahan pokok bersubsidi.
Untuk menjaga kestabilan harga dalam jangka panjang, Pemko Pematangsiantar perlu menggabungkan program tanggap darurat tersebut dengan upaya meningkatkan kemampuan petani di tingkat hulu.
"Solusi jangka panjang perlu pendekatan menyeluruh. Hal ini dimulai dari kepastian subsidi pupuk, pembenahan rantai pasok dari hulu ke hilir, dan penyediaan sarana pendingin (cold storage) agar komoditas cabai bisa disimpan lebih lama saat pasokan melimpah," ujar Darwin.[]























