Ekonomi Sumut 2026 Diprediksi Melambat, Pengamat Ungkap Sektor yang Paling Terpukul

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin. (Foto: Mimbar/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara (Sumut) pada tahun 2026 diprediksi akan mengalami revisi ke bawah dibandingkan proyeksi sebelumnya. Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, kini mematok angka pertumbuhan ekonomi Sumut di rentang 5,1 persen hingga 5,2 persen.
Meski diprediksi tumbuh lebih baik dibandingkan tahun 2025 yang melambat di bawah 4,6 persen, Gunawan memberikan catatan kritis mengenai perubahan struktur belanja pemerintah yang berdampak pada ketimpangan antarsektor usaha.
“Pertumbuhan ekonomi Sumut masih akan didorong oleh konsumsi domestik seiring peningkatan belanja pemerintah pusat untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, di sisi lain, ada efisiensi besar-besaran di pos anggaran lain yang melemahkan akselerasi pertumbuhan secara keseluruhan,” kata Gunawan, Selasa (20/1/2026).
Masalah utama yang disoroti adalah penurunan dana transfer ke daerah. Hal ini mengakibatkan pemerintah daerah harus melakukan efisiensi ketat, yang dampaknya paling dirasakan oleh sektor konstruksi.
“Sektor konstruksi akan menjadi sektor yang paling menderita. Penurunan alokasi untuk aset tetap atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) ini berisiko menurunkan kualitas infrastruktur yang semestinya dinikmati masyarakat,” ucapnya.
Gunawan menjelaskan bahwa melemahnya belanja pemerintah daerah saat ini sedang dikompensasi oleh anggaran masif untuk program MBG, termasuk pembangunan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Terdapat beberapa poin analisis kontribusi MBG terhadap ekonomi Sumut. Kontribusi saat ini diproyeksikan masih berada di bawah 0,2 persen. Potensi maksimal, jika pemerintah mampu mendorong realisasi hingga 1.700 unit SPPG, maka program MBG berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Sumut hingga 1 persen. Adapun target akhirnya adalah menjaga pertumbuhan ekonomi Sumut tetap di kisaran 5 persen untuk memulihkan kelesuan dari tahun sebelumnya.
“Pembangunan dapur MBG (SPPG) yang terus berlanjut akan berkorelasi pada belanja pemerintah yang lebih besar. Tantangannya adalah bagaimana belanja ini benar-benar bisa menutupi kekosongan pertumbuhan yang ditinggalkan oleh sektor konstruksi dan infrastruktur daerah,” ujar Gunawan. (hm27)






















