Friday, July 10, 2026
home_banner_first
EKONOMI

IHSG Stagnan di 9.314, BUMI Dominasi Transaksi Jelang Keputusan BI Rate

Mistar.idSelasa, 20 Januari 2026 pukul 16.31 WIB
ihsg_stagnan_di_9314_bumi_dominasi_transaksi_jelang_keputusan_bi_rate

Pergerakan indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (9/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup stagnan atau menguat tipis kurang dari satu poin ke level 9.314,70 pada akhir perdagangan Selasa (20/1/2026). Sepanjang sesi, pergerakan indeks cenderung fluktuatif dan sempat berada di zona merah pada awal perdagangan.

Berdasarkan data bursa, sebanyak 336 saham mencatatkan kenaikan, 323 saham melemah, dan 143 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat cukup besar, mencapai Rp29,57 triliun dengan volume perdagangan 72,93 miliar saham dalam 3,93 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp16.590 triliun.

Sepanjang hari, IHSG bergerak dalam rentang 9.120,15 hingga 9.174,47. Tekanan jual sempat muncul pada awal sesi pertama dan kedua, namun indeks berhasil kembali ke zona hijau hingga penutupan.

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi emiten dengan nilai transaksi terbesar, mencapai Rp8,56 triliun. Nilai tersebut jauh melampaui saham-saham lainnya. Meski sempat melonjak pada sesi pertama, saham BUMI ditutup menguat tipis di akhir perdagangan.

Dari sisi sektoral, mayoritas sektor mencatatkan penguatan. Sektor barang baku dan properti menjadi penopang utama dengan kenaikan tertinggi. Sebaliknya, sektor energi dan infrastruktur mencatatkan pelemahan terdalam pada perdagangan hari ini.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menopang kinerja IHSG, antara lain Bumi Resources Minerals (BRMS), Merdeka Gold Resources (EMAS), Bukit Uluwatu Villa (BUVA), Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE), serta XL SMART Telecom Sejahtera (EXCL). Kelima saham tersebut secara berurutan menyumbang 11,87 poin indeks, 10,85 poin, 6,05 poin, 5 poin, dan 4,06 poin.

Ke depan, pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen utama, terutama arah kebijakan moneter Bank Indonesia serta pergerakan harga komoditas global. Bank Indonesia diperkirakan akan menahan BI Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung Selasa hingga Rabu pekan ini.

Meski inflasi domestik relatif terkendali di level 2,92 persen, BI dinilai perlu menjaga daya tarik aset keuangan berbasis rupiah agar tetap kompetitif di mata investor asing. Selisih suku bunga dengan The Federal Reserve AS juga menjadi perhatian utama.

Pemangkasan suku bunga yang terlalu cepat di tengah penguatan dolar AS berisiko menekan rupiah lebih dalam, mengingat nilai tukar tengah berada di area psikologis mendekati Rp17.000 per dolar AS. Oleh karena itu, keputusan menahan suku bunga diharapkan dapat memberi kepastian pasar sekaligus menopang stabilitas rupiah.

Di sektor riil, perbankan diperkirakan masih dapat menikmati stabilitas marjin bunga bersih (NIM). Namun, sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti properti dan otomotif diperkirakan belum mengalami lonjakan permintaan dalam waktu dekat.

Sementara itu, perhatian investor juga tertuju pada pasar komoditas, khususnya sektor logam. Harga emas terus menunjukkan tren penguatan dan kembali mencetak rekor baru, dengan potensi mendekati level US$4.700 per troy ons. Harga perak pun mencatatkan reli signifikan, sempat menyentuh US$94 per troy ons, tertinggi sepanjang sejarah.

Logam industri lainnya seperti nikel, tembaga, dan aluminium turut menguat. Harga nikel tercatat telah naik lebih dari 20 persen hingga menembus US$18.000 per ton, didorong oleh penurunan produksi Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebagian besar pelaku industri logam di Indonesia kini tidak hanya mengandalkan satu komoditas, melainkan memperluas bisnis melalui hilirisasi, termasuk pembangunan smelter untuk mendukung industri berkelanjutan seperti baterai dan kendaraan listrik (EV).

Di sisi global, pasar Asia-Pasifik bergerak lesu seiring imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor panjang yang mencetak rekor tertinggi. Investor juga mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman tarif baru dari Amerika Serikat terkait isu Greenland.

Negara-negara Eropa dilaporkan tengah menyiapkan langkah balasan berupa tarif dan kebijakan ekonomi lainnya sebagai respons atas ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump, yang berpotensi memperketat hubungan perdagangan global.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN