Sunday, June 14, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Pengamat: Siswa di Sumedang Berhenti Sekolah karena Ekonomi Bentuk Kegagalan Sistem Pendidikan

Mistar.idRabu, 22 April 2026 19.02
journalist-avatar-top
SH
pengamat_siswa_di_sumedang_berhenti_sekolah_karena_ekonomi_bentuk_kegagalan_sistem_pendidikan_

Pengamat pendidikan, Jholant Bringg Luck Amelia Sinaga. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Video viral yang menampilkan salah seorang pelajar SMP di Sumedang harus berhenti sekolah karena ingin berjualan untuk membantu ekonomi keluarga, dinilai sebagai cermin belum optimalnya sistem pendidikan dalam menjamin akses belajar bagi semua anak.

Pengamat pendidikan dari Universitas Prima Indonesia, Jholant Bringg Luck Amelia Sinaga, menyebut kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan mendasar yang belum terselesaikan. “Kita harus mengakui bahwa ini memang bentuk kegagalan sistem,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Menurut dosen ekonomi itu, meski pemerintah telah menggulirkan berbagai program bantuan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP), Program Indonesia Pintar (PIP), dan Program Keluarga Harapan (PKH), implementasinya belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan di lapangan.

Masih adanya anak yang putus sekolah karena alasan ekonomi, menurutnya, menjadi indikator bahwa kebijakan tersebut belum berjalan efektif.

“Ini berarti kemungkinan yang pertama penyalurannya belum tepat sasaran, lalu pengawasan lemah, dan mungkin bisa jadi respons negara masih lambat terhadap kasus-kasus yang nyata seperti ini di lapangan,” katanya.

Ia menekankan persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan biaya sekolah, tetapi juga kondisi ekonomi keluarga secara keseluruhan. Menurutnya, negara sering kali membanggakan program pendidikan gratis, namun pada faktanya masih banyak anak yang harus memilih antara sekolah atau membantu keluarga demi bertahan hidup.

“Selama masih ada anak yang harus berhenti sekolah untuk bantu orang tuanya, kita tidak bisa bilang bahwa pendidikan di negara ini sudah benar-benar gratis. Karena yang mahal itu bukan hanya biaya sekolah, tapi biaya untuk bertahan hidup,” ucapnya.

Ia juga menyoroti peran sekolah yang dinilai belum maksimal dalam mencegah siswa putus sekolah. Menurutnya, sekolah tidak boleh hanya berfungsi sebagai institusi administratif, tetapi harus memiliki keterlibatan aktif terhadap kondisi siswa.

Sekolah, kata Jholant, seharusnya mencari tahu latar belakang siswa yang ingin berhenti dan berupaya mencarikan solusi, termasuk menghubungkan dengan bantuan dari dinas terkait.

“Sering kali sekolah hanya menerima begitu saja siswa yang mengundurkan diri. Sekolah hanya diam, mereka biarkan anak yaang mau keluar ya keluar, gitu,” katanya.

Ia menegaskan kehadiran negara melalui kebijakan yang tepat sasaran dan respons cepat sangat dibutuhkan agar tidak ada lagi anak yang terpaksa meninggalkan bangku pendidikan karena faktor ekonomi. “Di sini lah sebenarnya peran negara itu harus hadir,” tuturnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN