Bappenas Kelola Talenta Unggul sejak Dini, Berharap Lahir Peraih Nobel

Bappenas kenalkan MTN untuk cetak talenta unggul RI. (Foto: guru_esdeh/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkenalkan program Manajemen Talenta Nasional (MTN) dalam ajang Indonesia Research and Innovation Fair (IRIFair) BRIN 2026.
Program yang mulai diinisiasi sejak 2024 tersebut dirancang untuk mengidentifikasi, membina, dan mengembangkan talenta unggul Indonesia agar dapat berkontribusi melalui riset, inovasi, serta pembangunan nasional.
Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, mengatakan MTN merupakan rangkaian pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari menemukan potensi sejak usia dini hingga membentuk talenta yang memiliki kompetensi unggul.
Pembinaan tersebut nantinya melibatkan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan terkait.
Tahap awal program dilakukan melalui identifikasi calon talenta atau pra-bibit. Generasi muda yang memiliki potensi dan minat di bidang tertentu, termasuk STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika), akan diseleksi untuk mengikuti pembinaan.
Untuk jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, calon talenta antara lain berasal dari siswa yang telah menunjukkan prestasi dalam berbagai kompetisi, termasuk olimpiade.
"Kemudian masuk pembibitan di mana ada pembinaan bakat di situ termasuk mahasiswa atau peneliti yang mulai diberi riset asistensi," ujar Pungkas dalam acara puncak IRIFair.
Setelah tahap pembibitan, peserta akan memasuki penguatan kompetensi sebagai talenta potensial. Pada tahap ini, mereka diarahkan untuk mengembangkan riset dan menghasilkan inovasi dengan dukungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
"Mudah-mudahan ini menjadi talenta unggul atau ilmuwan yang berkontribusi global melalui inovasi," katanya.
Pungkas berharap program tersebut dapat melahirkan ilmuwan Indonesia yang mampu menghasilkan terobosan dan memiliki kontribusi di tingkat internasional, termasuk membuka peluang munculnya peraih Nobel dari Indonesia.
"Kita bercita-cita ada peraih Nobel dari Indonesia. Selama ini tempatnya untuk tempat penemuan Nobel, tapi penemunya belum," ujarnya.
Menurut Pungkas, tantangan dalam membangun manajemen talenta bukan hanya menemukan anak-anak muda dengan potensi tinggi. Pemerintah juga perlu memastikan proses pembinaan berlangsung berkesinambungan sehingga tidak terjadi putusnya jalur pengembangan talenta.
"Kita ingin membentuk sebuah ekosistem di mana talenta mempunyai ruang untuk belajar, untuk meneliti, untuk berkolaborasi menghasilkan inovasi serta berkembang dalam jalur karier yang jelas," katanya.
Dalam pengembangannya, para talenta akan diarahkan pada dua fokus utama riset, yakni hilirisasi dan pengembangan keilmuan.
Menurut Pungkas, talenta dari berbagai disiplin ilmu dibutuhkan untuk mendukung proses hilirisasi hasil riset sehingga inovasi yang dihasilkan tidak berhenti pada penelitian, tetapi dapat memberikan solusi bagi kebutuhan pembangunan.
"Apapun cabang ilmunya, akan ada talenta-talenta yang perlu dimanfaatkan yang bergerak di hilirisasi. Harapannya bisa menghadirkan solusi untuk pembangunan," ujarnya.








































