Thursday, October 29, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Abdul Mu'ti: Minat Kampus Asing Buka Prodi Bahasa Indonesia Meningkat

Mistar.idKamis, 29 Oktober 2026 pukul 16.25 WIB
abdul_muti_minat_kampus_asing_buka_prodi_bahasa_indonesia_meningkat

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Rabu (28/10/2026).(foto: Saniamashabi/Kompas)

Jakarta, MISTAR.ID - Minat perguruan tinggi di luar negeri untuk membuka program studi (prodi) Bahasa Indonesia terus meningkat seiring dengan semakin populernya bahasa nasional tersebut di kalangan masyarakat internasional.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, sejumlah perguruan tinggi di berbagai negara telah membuka prodi Bahasa Indonesia, di antaranya di Mesir dan Australia.

“Alhamdulillah, seiring dengan semakin populernya Bahasa Indonesia, minat beberapa perguruan tinggi untuk membuka prodi Bahasa Indonesia semakin meningkat,” kata Mu'ti di Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Rabu (28/10/2026), seperti dilansir Kompas, Kamis (29/10/2026).

Meski demikian, Mu'ti mengakui upaya memperluas pembukaan prodi Bahasa Indonesia di luar negeri bukan perkara mudah. Namun, meningkatnya ketertarikan masyarakat internasional terhadap Bahasa Indonesia menjadi peluang untuk memperluas pengajaran bahasa tersebut di berbagai negara.

Ia mencontohkan perkembangan pembelajaran Bahasa Indonesia di Uzbekistan. Saat berkunjung ke negara tersebut bersama Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz, pada tahun lalu, Mu'ti melihat pembelajaran Bahasa Indonesia telah berkembang di lingkungan perguruan tinggi setempat.

Menurut dia, salah satu kampus di Uzbekistan bahkan telah mulai mengajarkan Bahasa Indonesia, meskipun belum membuka program studi khusus.

“Salah satu kampus di sana juga sudah mulai mengajarkan Bahasa Indonesia walaupun belum jadi prodi, tapi sudah sangat populer di kampus di Uzbekistan,” ujarnya.

Mu'ti menjelaskan, pengajaran Bahasa Indonesia di luar negeri selama ini didukung oleh tenaga pengajar yang berasal dari Indonesia maupun warga negara setempat yang telah mendapatkan pelatihan.

Pelibatan pengajar lokal dinilai dapat membantu menekan biaya penyelenggaraan pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan demikian, pengajaran bahasa tersebut dapat menjangkau lebih banyak lembaga pendidikan di luar negeri.

“Tapi sebagiannya juga dari guru-guru dari negara setempat, tapi sudah kita latih sehingga secara biaya akan lebih murah,” kata Mu'ti.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa terdapat persyaratan khusus bagi tenaga pengajar yang mengajar di program studi Bahasa Indonesia. Menurut Mu'ti, pengajar untuk program studi tersebut harus memiliki sertifikasi yang sesuai.

“Untuk yang prodi, memang gurunya harus yang certified,” ujarnya mengakhiri. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN