Sunday, June 21, 2026
home_banner_first
BUDAYA

Dari Ruang Belakang Kota Menjadi Ruang Budaya: Sungai Deli Kembali Dihidupkan

Mistar.idMinggu, 21 Juni 2026 pukul 15.12 WIB
RY
MH
dari_ruang_belakang_kota_menjadi_ruang_budaya_sungai_deli_kembali_dihidupkan

Pertunjukan Teater Kontemporer (f:ist/mistar)

news_banner

MEDAN, MISTAR.ID

Selama bertahun-tahun, Sungai Deli lebih sering dipandang sebagai ruang belakang Kota Medan—tempat yang identik dengan persoalan lingkungan, sampah, dan banjir. Melalui kegiatan Re-Posisi Zikir Sungai Deli yang berlangsung di Sanggar Anak Sungai Deli (SASUDE), Jalan Brigjen Katamso, Gang Kesatria, Sabtu (20/6/2026), seniman, budayawan, mahasiswa, dan warga menghadirkan kembali sungai sebagai ruang budaya, ruang belajar, dan ruang perjumpaan masyarakat.

Puluhan pengunjung mengikuti berbagai agenda sejak siang hingga malam hari, mulai dari peluncuran buku, diskusi kebudayaan, pertunjukan musik, tari, hingga pertunjukan teater kontemporer di atas panggung terapung.

Kegiatan yang mendapat dukungan Dana Indonesiana tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kembali hubungan masyarakat dengan Sungai Deli, sekaligus mengingatkan bahwa sungai bukan sekadar bentang alam yang membelah kota, melainkan bagian penting dari sejarah, identitas, dan kehidupan warga Medan.

Acara dibuka dengan peluncuran buku Gado-Gado Hafiz Taadi: Jejak Kesenian 43 Tahun. Buku tersebut merekam perjalanan kreatif Hafiz Taadi selama lebih dari empat dekade berkesenian, berisi kumpulan tulisan, dokumentasi pertunjukan, catatan pemikiran, serta berbagai aktivitas kebudayaan yang pernah dilakoninya.

Menurutnya, buku tersebut diterbitkan bukan sekadar sebagai dokumentasi perjalanan pribadi, melainkan sebagai sarana berbagi pengalaman kepada generasi muda.

"Saya berharap pengalaman yang tertulis di dalam buku ini dapat menjadi referensi dan penyemangat bagi generasi muda. Berkesenian bukan hanya soal menghasilkan karya, tetapi juga proses membangun karakter, kepekaan sosial, dan cara memandang kehidupan," ujarnya.

Selain peluncuran buku, kegiatan yang digagas oleh Hafiz ini juga diisi dengan diskusi budaya, menghadirkan Sultan Deli XIV Tuanku Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam dan Founder SASUDE Lukman Hakim Siagian. Diskusi tersebut membahas hubungan erat Sungai Deli dengan sejarah Kesultanan Deli dan perkembangan Kota Medan.

Dalam pemaparannya, Sultan Deli menegaskan bahwa sungai memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah kawasan ini. Menurutnya, menjaga sungai berarti menjaga salah satu bagian penting dari identitas dan warisan peradaban yang telah tumbuh bersama masyarakat selama berabad-abad.

"Sungai Deli adalah bagian dari sejarah kita. Dahulu masyarakat memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam dan menjaga keseimbangannya. Semangat itulah yang perlu dihidupkan kembali agar sungai tidak hanya dikenang sebagai bagian masa lalu, tetapi juga menjadi bagian masa depan kota ini," katanya.

Sementara itu, Lukman Hakim Siagian menjelaskan bahwa SASUDE selama sembilan tahun terakhir konsisten mengembangkan berbagai kegiatan berbasis seni, edukasi, dan lingkungan di kawasan bantaran Sungai Deli. Menurutnya, sungai tidak seharusnya dipandang sebagai ruang belakang kota, melainkan sebagai ruang bersama yang dapat menghadirkan aktivitas sosial dan kebudayaan.

Puncak kegiatan berlangsung pada malam hari melalui pertunjukan teater kontemporer “Ibu Air Mata Sungai” karya Hafiz Taadi yang dipentaskan di atas panggung terapung di Sungai Deli. Sebanyak 18 pemain terlibat dalam pertunjukan yang menyuguhkan refleksi artistik mengenai hubungan manusia dengan alam, perubahan lingkungan, serta berbagai persoalan yang dihadapi sungai-sungai perkotaan.

Bagi warga sekitar, kegiatan semacam ini menghadirkan harapan baru bagi Sungai Deli. Siti Rahma (48), warga yang tinggal di kawasan bantaran sungai, mengaku senang melihat semakin banyak orang datang dan peduli terhadap kondisi sungai.

"Dulu orang datang ke sini paling hanya lewat. Sekarang ada kegiatan seni, diskusi, dan anak-anak juga belajar. Kami jadi merasa sungai ini masih punya masa depan dan tidak dilupakan," ujarnya.

Hal senada disampaikan Arif (20), mahasiswa yang mengikuti kegiatan. Menurutnya, pendekatan budaya mampu menghadirkan cara pandang baru dalam melihat persoalan lingkungan.

"Biasanya orang bicara sungai hanya soal sampah dan banjir. Di sini kami diajak melihat bahwa sungai juga punya sejarah, cerita, dan nilai budaya yang harus dijaga bersama," katanya.

Melalui kegiatan Re-Posisi Zikir Sungai Deli, sungai tidak hanya dipandang sebagai bentang alam yang membelah kota, tetapi juga sebagai ruang hidup yang menyimpan memori sejarah, identitas budaya, dan harapan masa depan masyarakat Medan. (maulana)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN