Friday, June 5, 2026
home_banner_first
HIBURAN

Setia di Jalan Sunyi Teater, Aucintia kembali Menyapa Panggung Lewat 'Bias Lampu Kota'

Mistar.idJumat, 6 Februari 2026 19.21
journalist-avatar-top
SH
setia_di_jalan_sunyi_teater_aucintia_kembali_menyapa_panggung_lewat_bias_lampu_kota

Aucintia Agnes R Manik saat berlakon di atas pentas seni. (foto: Dokumentasi Aucin/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Di tengah minimnya perhatian publik terhadap seni teater, Aucintia Agnes R Manik atau yang dikenal dengan sapaan Aucin memilih tetap setia menapaki jalur yang ia sebut sebagai jalan sunyi.

Seniman Medan yang lahir 26 tahun silam itu kembali menyuarakan kegelisahan panggung melalui pementasan monolog Bias Lampu Kota yang akan ditampilkan dalam pertunjukan Atma Loka 2026.

Bagi Aucin teater bukan sekadar hiburan. Ia memandang panggung sebagai ruang hidup, tempat imajinasi dan pengalaman manusia diramu menjadi sebuah makna. Ketertarikannya pada dunia teater tumbuh sejak kecil, berawal dari kebiasaan membaca buku yang ditanamkan ibunya.

Saat itu, buku-buku menjadi teman akrab Aucin di rumah. Tidak semua bacaan mudah dipahami oleh anak seusianya, namun justru dari kesulitan itu imajinasinya terasah. Ia membangun adegan demi adegan di kepalanya untuk memahami cerita.

“Banyak yang sulit untuk saya pahami, maka saya membentuk adegan di kepala, menciptakan imajinasi-imajinasi. Dari situlah kecintaan saya terhadap dunia teater tumbuh,” ujar Aucin mengenang kembali masa kecilnya, Jumat (6/2/2026).

Alumni Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan (Unimed) ini mulai menekuni teater sejak 2015, saat masih berusia 15 tahun. Perjalanannya berlanjut dari aktivitas teater sekolah hingga bergabung dengan komunitas-komunitas teater di Medan. Dari sana, ia mendapat kesempatan tampil di berbagai daerah dan ajang nasional.

Aucin tercatat pernah mewakili Sumatera dalam sejumlah kegiatan prestisius, di antaranya Parade Monolog Nasional Pelaku Teater Indonesia (Pamonaspati 2) dan Festival Teater Sumatera III di Palembang.

Ia juga meraih juara dua nasional sebagai aktor sekaligus penulis dialog dalam ajang yang mewakili Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara.

Meski telah melalui berbagai panggung dan prestasi, Aucin tidak menutup mata terhadap realitas dunia teater di Medan. Menurutnya, teater kerap berjalan dengan fasilitas terbatas dan penonton yang tidak selalu ramai.

Ia menyebut minat warga terhadap teater jauh lebih rendah dibandingkan antusias terhadap konser musik maupun hiburan populer lainnya. Baginya persoalan tersebut bukan semata soal harga tiket, melainkan kebiasaan dan kultur masyarakat modern yang lebih akrab dengan konser, bioskop, dan konten media sosial.

Aucintia Agnes R Manik saat berlakon di atas pentas seni. (foto: Dokumentasi Aucin/Mistar)

Tantangan lain datang dari sisi finansial. Aucin mengakui meski teater memberinya kepuasan batin, dunia itu belum mampu sepenuhnya menopang kebutuhan hidupnya. Ia pun harus membagi waktu dengan pekerjaan lain, seperti menyulam dan mengajar.

“Saya merasa hidup di teater. Tapi teater belum mampu menghidupi saya,” ucapnya.

Namun, meninggalkan teater tak pernah menjadi pilihannya. Sejak pertama kali naik panggung hingga kini, Aucin tetap bertahan dengan alasan rasa cintanya terhadap teater jauh lebih tinggi. “Kalau rasa suka tertinggi itu katanya memang nggak bisa dijelaskan kenapa,” tuturnya.

Kesetiaan itu kembali terwujud dalam pementasan monolog Bias Lampu Kota karya Ahmad Munawar Lubis, yang akan dibawakan Aucin dalam pertunjukan perdana Atma Loka di Taman Budaya Medan pada 7 Februari 2026.

Naskah ini menggambarkan perempuan dalam berbagai peran kehidupan, baik sebagai anak, istri, pekerja, kekasih, hingga ibu yang bergulat dengan luka batin, tekanan sosial, dan pencarian makna diri. Kisah personal dan realitas sosial dirangkai menjadi satu narasi tentang keberanian perempuan berdamai dengan dirinya sendiri.

Pimpinan Produksi Atma Loka, Talitha, menjelaskan Atma Loka hadir sebagai fasilitator bagi seniman dan komunitas seni pertunjukan di Kota Medan. Menurutnya, banyak pelaku seni memiliki karya, namun belum terkelola dan terdistribusi dengan baik.

“Kami melihat komunitas seni pertunjukan butuh tim manajemen produksi. Banyak yang tampil, tapi tidak tersosialisasi ke publik,” kata Talitha.

Atma Loka, yang telah berjalan sejak Agustus 2025, menempatkan diri sebagai promotor dan manajemen bagi seni pertunjukan. Dengan visi untuk mendorong seni agar benar-benar diapresiasi masyarakat, dengan cara memperkenalkannya secara lebih luas, termasuk melalui media digital.

Talitha menyebut target penonton pertunjukan ini menyasar generasi Z. Ia menilai minat gen Z terhadap seni pertunjukan masih ada, namun kerap terhambat oleh minimnya informasi.

“Bukan karena tidak tertarik, tapi karena tidak tahu. Maka strategi kami adalah memanfaatkan digitalisasi,” ujarnya.

Ia menyebut informasi terkait pertunjukan Bias Lampu Kota ini dapat diakses melalui akun Instagram resmi Atma Loka. Talitha berharap ini menjadi awal yang baik untuk komunitas seni dapat berkembang dan semakin dikenal secara luas.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN