Akulturasi Budaya Jawa-India di Medan, Harmoni yang Merayakan Perbedaan

kedua aktor mempelai mengenakan pakaian adat Jawa dan India dan mengikuti segala prosesinya. (foto:susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Perpaduan budaya Jawa dan India bukan sekadar simbol keberagaman, tetapi juga gambaran nyata bagaimana perbedaan dapat saling menguatkan. Pesan inilah yang disampaikan dalam kegiatan Literasi Akulturasi Budaya Perkawinan Jawa dan India yang digelar Yayasan Rumah Literasi Ranggi bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 2 Sumut di Dimigo Resto and Space, Sabtu (22/11/2025).
Ketua Pembina Yayasan Rumah Literasi Ranggi, Sutriyono, menyampaikan rasa syukur atas besarnya dukungan pemerintah terhadap kegiatan ini.
“Kami tidak menyangka akan sampai di titik ini, titik di mana mimpi kecil kami bisa bertemu dukungan besar dari negara,” ujarnya.
Sutriyono, yang berasal dari keluarga Jawa—ibu dari Yogyakarta dan ayah dari Solo—mengaitkan tema kegiatan dengan pengalamannya sendiri. Ia menyebut bahwa pernikahannya dengan sang istri, yang berasal dari etnis India-Batak, telah menjadi latihan akulturasi budaya sejak hari pertama menikah.
“Cultural harmony is a practice of patience and mutual respect. Dalam bahasa Jawa, saya ingin menambahkan, ‘Senadyan adat beda-beda, nanging yen niate becik lan rukun, mesti maringi berkah.’ (Budaya boleh berbeda, tetapi bila diniatkan baik dan rukun, pasti membawa berkah). Kadang berhasil, kadang perlu rapat lanjutan,” katanya sembari tertawa kecil.
Ketua Yayasan Rumah Literasi Ranggi, Ranggini, juga menegaskan bahwa program pelestarian budaya bukan hanya bentuk dukungan pemerintah terhadap seni dan tradisi, tetapi ruang perjumpaan di mana perbedaan saling belajar, saling menghormati, dan saling menguatkan.
Ranggini, yang merupakan keturunan India-Batak Simalungun dan kini berkeluarga dengan budaya Jawa, mengatakan bahwa perbedaan tidak pernah menjadi hambatan. “Justru memperluas makna keluarga, memperluas pemahaman, dan memperluas hati,” ujarnya.
“Budaya kuwi kudu dirumat, ben ora ilang lan tetep gawe pandom kanggo generasi sabanjure (Budaya harus dirawat agar tidak hilang dan tetap menjadi pedoman generasi berikutnya),” tuturnya lagi.
Ranggini menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menampilkan prosesi adat Jawa dan India secara simbolis, serta bazar mini kuliner India dan Jawa yang disiapkan bersama komunitas dan panitia.
Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Dr. Asrif, menilai kolaborasi budaya tersebut sebagai cerminan kekayaan Indonesia. Ia mengutip pernyataan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada Konferensi Bahasa beberapa tahun silam mengenai keindahan permadani yang banyak warna.
“Keindahan yang semakin banyak kolaborasi, semakin memberikan keindahan yang tiada tara,” katanya.
Asrif menyebut perbedaan budaya bukan hambatan, melainkan kekuatan. “Terbukti, tuan rumah acara kita adalah pasangan Batak-India dan Jawa, baik-baik saja, dan justru itulah kekuatan akulturasi Indonesia. Tidak hanya kita sebangsa, tetapi kita menyatu dalam satu kesatuan, satu rasa, satu hati, dan satu tempat: Indonesia,” tuturnya.
Dalam kegiatan ini, dilaksanakan praktik pernikahan antara Jawa dan India. Pertama, kedua mempelai mengikuti prosesi India, mulai dari pakaian hingga adat tradisi. Selanjutnya, kedua mempelai berganti pakaian dan mengikuti prosesi pernikahan sesuai adat Jawa.
Melalui kegiatan ini, Ranggini berharap akulturasi budaya bukan hanya dipahami, tetapi juga dirayakan sebagai jembatan yang memperkaya keluarga, masyarakat, dan generasi mendatang. (hm27)






















