Saturday, August 29, 2026
home_banner_first
WISATA

Tokyo Little House, Rumah Kayu 70 Tahun yang Kini Jadi Magnet Turis Asing

Mistar.idSabtu, 29 Agustus 2026 pukul 06.00 WIB
tokyo_little_house_rumah_kayu_70_tahun_yang_kini_jadi_magnet_turis_asing_

Tampak depan Tokyo Little House yang sangat sederhana. (foto: Tokyo Cheapo/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID – Di tengah modernitas Tokyo, masih ada bangunan lama yang mampu menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara. Salah satunya Tokyo Little House, sebuah rumah kayu di kawasan Akasaka yang telah berdiri sejak sekitar 70 tahun lalu.

Bangunan tersebut sekilas terlihat seperti rumah bergaya tradisional Jepang. Namun, di dalamnya terdapat kafe, ruang galeri, sekaligus penginapan yang menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan.

Belakangan, Tokyo Little House semakin dikenal di kalangan turis mancanegara. Antrean pengunjung asing bahkan kerap terlihat di depan bangunan tersebut. Lantas, apa yang membuat rumah tua ini begitu menarik?

1. Dibangun Setelah Perang Dunia II

Tokyo Little House memiliki sejarah yang panjang. Bangunan ini didirikan pada 1948, sekitar tiga tahun setelah Perang Dunia II berakhir.

Saat itu, kawasan Akasaka masih dalam proses pemulihan akibat kehancuran perang. Rumah tersebut berada di belakang gedung parlemen nasional Jepang dan menjadi salah satu saksi perubahan kawasan tersebut dari masa ke masa.

Pengelola menggambarkan rumah itu sebagai bangunan yang menyaksikan Tokyo bangkit dari kondisi pascaperang hingga berkembang menjadi kota modern dengan gedung tinggi dan cahaya neon.

Berbeda dengan bangunan yang sengaja dibuat menggunakan konsep vintage, Tokyo Little House memang merupakan rumah lama yang telah bertahan selama puluhan tahun.

Kini, rumah kayu tersebut berada di tengah lingkungan Akasaka yang berkembang menjadi kawasan perkotaan dengan berbagai pusat hiburan dan bisnis.

Tampak depan Tokyo Little House yang sangat sederhana. (foto: Tokyo Cheapo/Mistar)

2. Kafe Sekaligus Ruang Galeri

Lantai pertama Tokyo Little House difungsikan sebagai kafe dan galeri.

Pengunjung dapat menikmati makanan serta minuman sembari melihat berbagai koleksi yang berkaitan dengan perjalanan sejarah Tokyo. Di dalamnya terdapat buku, majalah lama, peta, hingga dokumen dan materi pameran lainnya.

Koleksi tersebut memberikan gambaran mengenai Tokyo dari berbagai perspektif, mulai dari kehidupan warga, orang-orang yang pernah tinggal di kota tersebut, hingga wisatawan pada masa lalu.

Karena itu, pengalaman berkunjung ke Tokyo Little House tidak hanya sebatas menikmati hidangan, tetapi juga mengenal sisi lain Tokyo yang mungkin tidak ditemukan di kawasan wisata modern.

3. Lantai Atas Disulap Menjadi Penginapan

Keunikan bangunan ini berlanjut ke lantai dua. Area tersebut telah diubah menjadi akomodasi privat yang hanya dapat digunakan oleh satu kelompok tamu dalam satu waktu.

Penginapan tersebut dapat ditempati hingga tiga orang dewasa dengan ketentuan masa tinggal minimal lima malam. Untuk keluarga yang membawa anak, kapasitasnya dapat mencapai empat orang.

Walaupun telah mengalami renovasi, sejumlah bagian asli rumah tetap dipertahankan. Beberapa di antaranya adalah jendela kayu, dinding tanah, lantai tatami, serta benda-benda lama yang menjadi bagian dari sejarah rumah.

Sementara itu, area kamar tidur telah diperbarui dengan lantai kayu, kasau terbuka, dan dinding plester. Fasilitas modern seperti dapur kecil, perlengkapan makan, toilet, pancuran, dan mesin cuci juga tersedia.

Bangunan ini sebelumnya digunakan sebagai tempat tinggal keluarga selama tiga generasi. Kini, keberadaan penginapan tersebut memberi kesempatan bagi wisatawan untuk merasakan suasana rumah Jepang tempo dulu dengan fasilitas yang lebih modern.

Penginapan di lantai 2. (foto: Tokyo Little House/Mistar)

4. Renovasi Tetap Mempertahankan Nuansa Lama

Proses renovasi Tokyo Little House berlangsung sekitar enam bulan. Meski demikian, pengelola tidak mengubah karakter utama bangunan secara keseluruhan.

Area lantai dua memiliki luas sekitar 36 meter persegi. Ruang tamu dan kamar tidur dibuat dengan konsep terbuka sehingga kedua area tersebut saling terhubung.

Akses menuju penginapan dibuat terpisah dari area kafe. Pintu masuk juga dilengkapi sistem kunci elektronik untuk menjaga privasi para tamu.

Karakter bangunan lama masih dapat dirasakan, salah satunya melalui tangga yang cukup curam. Karena kondisi tersebut, pengelola menyebut akomodasi ini kurang sesuai bagi lansia atau orang dengan keterbatasan mobilitas.

Lokasi Tokyo Little House yang berada di kawasan hiburan juga membuat suara aktivitas jalanan terkadang terdengar hingga ke dalam penginapan, terutama pada malam hari.

Suara bising biasanya lebih terasa sekitar pukul 21.00 hingga tengah malam atau bahkan lebih larut. Meski bangunan telah menggunakan insulasi dan jendela ganda, pengelola tetap menyediakan penyumbat telinga bagi tamu yang menginginkan suasana lebih tenang.

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN