Viral Emak-Emak Kisaran Main Nasyid Pakai Galon dan Barang Bekas

Kelompok perkusi nasyid emak-emak di Kisaran saat unjuk kebolehan videonya viral di sosial media. (foto: Tangkapan layar / Mistar)
Asahan, MISTAR.ID
Sebuah video unik dari Kabupaten Asahan mendadak viral di media sosial dan mencuri perhatian warganet. Bukan konser musik mahal atau alat modern, melainkan sekelompok emak-emak yang memainkan alat musik dari barang bekas dengan penuh semangat dan kekompakan.
Aksi mereka terekam saat membawakan lantunan nasyid religi sambil menabuh galon air, ember plastik, botol kaca, panci, hingga kaleng biskuit. Suara yang dihasilkan terdengar kompak, ritmis, bahkan tak kalah dari grup marching band profesional.
Fenomena ini langsung ramai dibicarakan dan disebut sebagai salah satu bentuk kreativitas emak-emak di Kisaran yang inspiratif sekaligus menghibur. Video tersebut dibagikan oleh akun Instagram Cerita Asahan dan langsung menyedot ribuan penonton.
Dalam tayangan yang dilihat MISTAR.ID, Senin (2/2/2026), para ibu-ibu ini tampil percaya diri dengan berjalan berbaris rapi sambil menabuh alat musik rakitan mereka. Irama perkusi dari barang bekas itu berpadu harmonis dengan lantunan selawat dan syair nasyid yang menggema melalui mikrofon.
Tak sedikit warganet mengaku merinding sekaligus bangga melihat kreativitas sederhana namun sarat makna tersebut. “Ini baru seni dari hati, bukan cuma hiburan tapi juga dakwah,” tulis salah satu komentar.
Diketahui, kelompok unik ini merupakan komunitas nasyid perkusi emak-emak dari Kelurahan Kedai Ledang, Kecamatan Kisaran Timur, Kabupaten Asahan. Mereka bukan musisi profesional, melainkan ibu rumah tangga yang tergabung dalam kegiatan pengajian dan perwiritan rutin. Dari aktivitas religi itulah muncul ide untuk mengisi acara dengan nasyid yang berbeda dari biasanya.
Alih-alih membeli alat musik mahal, mereka justru memanfaatkan barang bekas yang ada di rumah. Galon kosong dijadikan drum, ember sebagai bass, botol kaca sebagai pengatur ritme, hingga panci sebagai perkusi tambahan.
Wati, salah satu anggota kelompok, mengungkapkan bahwa penampilan kompak mereka melalui latihan selama beberapa minggu.
“Kami latihan pelan-pelan, mulai dari mencocokkan suara, lalu belajar ritme pakai galon dan ember. Awalnya berisik, tapi lama-lama jadi enak didengar,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia menambahkan, meski baru terbentuk beberapa bulan, setiap anggota memiliki peran masing-masing. Ada yang fokus pada vokal, ada yang memegang ritme, dan ada pula yang bertugas mengatur barisan layaknya marching band.
“Kami ingin tampil rapi dan seru, supaya orang yang melihat juga ikut senang,” katanya.
Seiring viralnya aksi mereka, grup nasyid emak-emak ini kini mulai sering diundang tampil di berbagai acara, mulai dari peringatan hari besar Islam, pengajian akbar, hajatan warga, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.
Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi wadah silaturahmi serta cara positif mengisi waktu luang.
Kehadiran kelompok nasyid ini mendapat respons hangat dari warga sekitar. Banyak yang mengapresiasi semangat para ibu-ibu tersebut karena mampu menghadirkan hiburan religius yang kreatif tanpa biaya besar.
Seorang warga setempat, Rahmad (45), mengaku bangga. “Jarang ada yang sekreatif ini. Barang bekas bisa jadi musik, ibu-ibu pula yang main. Salut kali,” ujarnya.
Selain menghibur, kegiatan ini juga dinilai memberi contoh positif tentang pemanfaatan limbah rumah tangga sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga. Di tengah gempuran teknologi modern, aksi emak-emak Kisaran ini menjadi bukti bahwa kreativitas tidak mengenal usia maupun keterbatasan alat. Dengan semangat gotong royong dan niat berdakwah, mereka berhasil menciptakan pertunjukan yang unik, edukatif, dan penuh nilai positif.






















