Saturday, September 5, 2026
home_banner_first
HIBURAN

Bukan Sekadar Lagu September, Ada Kisah Pilu di Balik ‘Wake Me Up When September Ends’

Mistar.idSabtu, 5 September 2026 pukul 16.10 WIB
bukan_sekadar_lagu_september_ada_kisah_pilu_di_balik_wake_me_up_when_september_ends

Wake Me Up When September Ends. (Foto: Medium.com)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID – Setiap September, lagu Wake Me Up When September Ends milik Green Day hampir selalu kembali ramai di media sosial. Lagu tersebut digunakan dalam berbagai unggahan, mulai dari meme hingga konten bernuansa nostalgia.

Namun, di balik kebiasaan itu terdapat kisah personal yang emosional dari Billie Joe Armstrong.

Lagu yang menjadi bagian dari album American Idiot tersebut ditulis Armstrong setelah kehilangan ayahnya pada 10 September 1982.

Ayah Armstrong meninggal saat dirinya masih kecil. Kepergian itu meninggalkan luka yang terus dirasakannya selama bertahun-tahun.

Kesedihan Armstrong terlihat saat pemakaman sang ayah. Seusai prosesi, dia pulang ke rumah dan mengunci diri di kamar. Ketika ibunya mengetuk pintu untuk memastikan keadaannya, Armstrong hanya menjawab, "Bangunkan aku saat September berakhir."

Kalimat tersebut kemudian menjadi inspirasi judul sekaligus bagian lirik Wake Me Up When September Ends. Bagian awal lagu juga menggambarkan sosok sang ayah serta waktu yang terus berjalan sejak kepergiannya.

Dalam wawancara di acara Howard Stern Show, Armstrong pernah menceritakan bahwa September selalu menghadirkan perasaan berbeda baginya. Kenangan tentang ayahnya kembali terasa setiap kali bulan tersebut datang.

"Saya rasa itu sesuatu yang terus melekat dalam ingatan saya, bulan September yang merupakan hari peringatan kematiannya selalu terasa, entah kenapa, agak menyedihkan," kata Armstrong kepada Stern, Sabtu (5/9/2026).

Bagi Armstrong, menulis lagu tersebut bukan hal yang mudah dilakukan. Dia membutuhkan waktu lama hingga akhirnya siap menuangkan rasa kehilangan itu ke dalam sebuah lagu.

"Saya memikirkannya setiap hari, sungguh," ucapnya.

"Saya agak menghindari menulis tentang dia selama bertahun-tahun, dan akhirnya mendapatkan terobosan seperti itu terasa menyenangkan. Itu bukan emosi negatif, tetapi lebih seperti menghormatinya," sambungnya.

Menariknya, lagu tersebut sebenarnya telah selesai dibuat hampir dua dekade sebelum Green Day memutuskan merekamnya. Lagu itu kemudian masuk dalam album American Idiot yang dirilis pada 2004.

American Idiot merupakan album studio kedelapan Green Day. Album ini memiliki konsep besar yang mengikuti perjalanan karakter Jesus of Suburbia, seorang antihero kelas pekerja yang menggambarkan kekecewaan generasi di tengah sejumlah peristiwa besar, termasuk tragedi 9/11 dan Perang Irak.

Setiap lagu dalam album tersebut menjadi bagian dari perjalanan Jesus of Suburbia. Kisahnya kemudian berkembang menjadi gambaran kegelisahan sekaligus munculnya gelombang baru budaya punk yang menentang kemapanan.

Meski berawal dari pengalaman pribadi Armstrong, Wake Me Up When September Ends kemudian memiliki kehidupan yang lebih luas. Selama bertahun-tahun, lagu tersebut digunakan dalam berbagai konteks di luar kisah pribadi sang vokalis.

Lagu tersebut pernah digunakan sebagai bagian dari pernyataan dalam gerakan anti-perang. Selain itu, Wake Me Up When September Ends juga dipakai sebagai bentuk penghormatan kepada para penyintas Badai Katrina.[]



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN