Sunday, June 21, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Pengamat: Kebakaran Pajak Parluasan Berdampak Besar pada Ekonomi Siantar

Mistar.idJumat, 19 Juni 2026 pukul 14.53 WIB
AN
AS
pengamat_kebakaran_pajak_parluasan_berdampak_besar_pada_ekonomi_siantar

Kebakaran Pajak Parluasan hanya menyisakan puing-puing. (Foto: Abdi/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Kebakaran yang menghanguskan ratusan kios di Pasar Dwikora atau Pajak Parluasan, Jalan Gotong Royong, Kelurahan Sukadame, Kecamatan Siantar Utara, akan memberikan dampak besar terhadap perekonomian Kota Pematangsiantar.

Tragedi yang terjadi pada Kamis (18/6/2026) dini hari itu tidak hanya menyebabkan kerugian materi, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada pasar tersebut.

Pengamat Ekonomi Universitas Simalungun (USI), Dr. Darwin Damanik, mengatakan Pajak Parluasan merupakan salah satu pusat perputaran ekonomi terbesar di Kota Pematangsiantar, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah.

“Jika dikatakan lumpuh total sebenarnya tidak juga. Namun, jika disebut lumpuh sebagian atau mengalami guncangan besar, ya benar. Pajak Parluasan adalah salah satu pusat perputaran uang terbesar di Siantar,” ujar Darwin kepada Mistar, Jumat (19/6/2026).

Ia menjelaskan, kebakaran yang menghanguskan sedikitnya 311 kios semi permanen tersebut berpotensi menimbulkan efek domino bagi berbagai sektor.

Ratusan pedagang kehilangan tempat usaha dan modal, sementara para pemasok barang, buruh angkut, tukang parkir, hingga sopir angkutan kota yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas pasar ikut terdampak.

Menurut Darwin, dampak kebakaran juga dapat dirasakan oleh masyarakat sebagai konsumen. Hilangnya ratusan kios dikhawatirkan mengurangi akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok dengan harga terjangkau serta berpotensi memicu kenaikan harga barang di pasar lain akibat keterbatasan pasokan.

“Terbakarnya pasar ini otomatis mengganggu kenyamanan, aksesibilitas, dan pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini juga berpotensi memicu kenaikan harga barang sejenis di tempat lain akibat keterbatasan pasokan,” katanya.

Menyikapi kondisi tersebut, Darwin menilai para pedagang saat ini membutuhkan kepastian dari pemerintah terkait relokasi, pemulihan usaha, serta dukungan finansial agar aktivitas ekonomi dapat segera kembali berjalan.

Ia juga mendesak Pemerintah Kota Pematangsiantar bersama PD Pasar Horas Jaya (PHJ) segera mengambil langkah darurat, mulai dari relokasi pedagang ke lokasi sementara yang layak, pendataan korban secara akurat, hingga pembangunan kios darurat.

“Penanganan harus dilakukan cepat agar aktivitas ekonomi masyarakat bisa segera pulih. Jika terlalu lama, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor,” ujarnya.

Darwin mengingatkan, lambatnya penanganan pascakebakaran berpotensi menimbulkan persoalan sosial dan ekonomi yang lebih besar, seperti meningkatnya angka kemiskinan, kriminalitas, menjamurnya pedagang kaki lima di bahu jalan, hingga penurunan daya beli masyarakat.

“Konsekuensi buruk yang mengintai jika ini lambat ditangani adalah meningkatnya angka kemiskinan dan kriminalitas, menjamurnya pedagang kaki lima liar di bahu jalan, serta penurunan daya beli masyarakat secara makro di Kota Pematangsiantar,” pungkasnya. (hm25)


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN