Friday, June 12, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Kelangkaan Solar Kian Parah, Sopir Logistik Asal Simalungun Merugi Besar

Mistar.idJumat, 12 Juni 2026 12.42
RY
kelangkaan_solar_kian_parah_sopir_logistik_asal_simalungun_merugi_besar

Antrean kendaraan di SPBU Raya, Kecamatan Raya, Simalungun.(foto: Indra/mistar)

news_banner

Simalungun, MISTAR.ID

Sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di sejumlah SPBU di Kabupaten Simalungun mulai berdampak serius terhadap aktivitas distribusi logistik dan hasil pertanian. Para sopir truk pengangkut sayuran mengaku mengalami kerugian akibat membengkaknya biaya operasional dan bertambahnya waktu perjalanan karena harus berburu BBM hingga ke luar daerah.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh Rey Saragih, sopir truk pengangkut sayuran asal Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun. Ia mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar dari biasanya saat mengantarkan hasil pertanian ke Provinsi Riau.

Menurutnya, perjalanan pulang-pergi yang normalnya dapat ditempuh dalam tiga hari kini bertambah menjadi empat hari akibat lamanya antrean di SPBU dan sulitnya memperoleh solar.

"Malam pertama sudah antre, malah tidak dapat. Sekarang ini sudah jalan pulang, sedang antre minyak di Kerasaan," ujar Rey saat dihubungi, Jumat (12/6/2026).

Tidak hanya waktu perjalanan yang bertambah, biaya konsumsi selama di perjalanan juga ikut membengkak. Ia mengaku harus mengeluarkan ongkos makan tambahan karena satu hari lebih lama berada di jalan.

"Biaya makan juga jadi bertambah karena tambah satu hari di perjalanan. Di Lima Puluh ada juga tadi [Solar], tapi panjang kali antreannya," katanya.

Lebih jauh, Rey mengungkapkan bahwa dirinya terpaksa membeli solar eceran dengan harga jauh lebih mahal demi memastikan distribusi sayuran tetap berjalan. Akibatnya, biaya bahan bakar yang biasanya sekitar Rp2 juta untuk satu kali perjalanan kini melonjak drastis.

"Biaya minyak tambah juga karena terpaksa mengisi ketengan seharga Rp10 ribu per liter. Biasanya hampir Rp2 juta untuk minyak. Ini sudah habis Rp2,5 juta, tapi posisi belum sampai gudang, masih di perjalanan," ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan Aldy Sipayung, warga Kecamatan Silimakuta. Ia menggambarkan betapa sulitnya menemukan solar di sejumlah SPBU yang dilaluinya.

"Perjuangan mendapatkan BBM harus lintas gunung dan melewati enam SPBU. Ketemu BBM-nya di SPBU Halilintar Karo, itupun hanya Pertalite, solar kosong," kata Aldy.

Dampak kelangkaan solar juga dirasakan sopir angkutan pedesaan (angdes) merk Sepadan yang melayani rute Pematangsiantar-Kabanjahe. Salah seorang sopir bermarga Tarigan mengatakan antrean panjang di SPBU membuat jadwal perjalanan menjadi tidak menentu.

"Bisa tambah 30 menit waktu perjalanan. Penumpang kadang sampai marah karena bosan menunggu," ujarnya saat ditemui di SPBU Raya.

Menurutnya, kemacetan turut memperburuk situasi karena banyak truk terpaksa mengantre hingga menggunakan badan jalan di sekitar SPBU. "Karena selain antre waktu pengisian, macet juga karena truk besar pada antre di badan jalan. Semoga ini segera berakhir lah, rugi masyarakat," katanya.

Kelangkaan solar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir tidak hanya memukul sektor transportasi, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai distribusi hasil pertanian yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Simalungun. Jika kondisi ini terus berlanjut, biaya distribusi diperkirakan akan semakin meningkat dan berimbas pada harga komoditas di tingkat konsumen.

Para sopir dan pelaku usaha transportasi berharap pemerintah serta pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk menormalkan pasokan BBM, sehingga aktivitas ekonomi dan distribusi barang dapat kembali berjalan lancar.(indra)




TAGS

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN