Sunday, July 5, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Iqronic, Cahaya dari Unimed untuk Tunatetra Belajar Al-Qur’an

Mistar.idRabu, 13 Mei 2026 pukul 18.04 WIB
iqronic_cahaya_dari_unimed_untuk_tunatetra_belajar_alquran

Implementasi Iqronic, sebuah inovasi Iqro Braille elektronik yang menggabungkan buku fisik dengan teknologi suara interaktif. (foto: Dokumentasi Iqronic/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Ujung jemari para lansia tunanetra itu bergerak perlahan di atas lembaran Braille yang mulai aus. Mereka berusaha mengenali titik demi titik huruf hijaiyah, meski sensitivitas jari tak lagi sepeka dulu.

Di ruangan sederhana milik DPD Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Sumatera Utara, belajar membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan perjuangan panjang melawan keterbatasan.

Bagi sebagian penyandang disabilitas netra, mengaji hanya bisa dilakukan ketika guru datang seminggu sekali. Selebihnya, mereka harus mengandalkan ingatan dan pendengaran.

Pemandangan itulah yang membekas di benak Raudhatul Jannah, mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Medan (Unimed).

Bersama dua rekannya Aldino dari PGSD dan Andira dari Teknik Elektro, ia kemudian menciptakan Iqronic, sebuah Iqro Braille elektronik dengan panduan suara interaktif. “Ide ini muncul setelah kami melihat langsung kesulitan teman-teman tunanetra saat belajar mengaji,” ujar Raudhatul, Rabu (13/5/2026).

Iqronic hadir bukan dalam bentuk aplikasi telepon pintar, melainkan buku fisik sederhana berisi enam halaman. Di setiap huruf hijaiyah dan potongan ayat, terdapat tombol kecil yang dapat ditekan pengguna.

Ketika tombol ditekan, suara panduan akan keluar, membantu pengguna memastikan bacaan mereka benar. “Jadi di buku Iqronic itu ada titik-titik Braille dan juga push button. Tombol itu untuk memastikan apakah bacaan mereka sudah tepat atau belum,” katanya.

Bagi tim kecil ini, menciptakan Iqronic bukan perkara mudah. Mereka harus melintasi batas disiplin ilmu demi mewujudkan alat yang ramah bagi tunanetra.

Andira bertugas merakit sistem elektronik menggunakan Arduino Mega dan rangkaian wiring. Prosesnya penuh percobaan dan kegagalan. Komponen sempat bermasalah, suara tak kunjung keluar, bahkan perangkat hampir mengalami korsleting.

Di sisi lain, Raudhatul fokus menyusun konten pembelajaran. Karena keterbatasan alat cetak, penulisan Braille dilakukan secara manual menggunakan reglet bersama dua sukarelawan tunanetra, Aura dan Ifa.

Tak hanya itu, rekaman suara dalam Iqronic juga dibuat dengan perhatian khusus. Raudhatul merekam panduan suara sendiri, namun seluruh pelafalan divalidasi oleh ahli tajwid agar makharijul huruf tetap benar.

“Kami dibimbing Ustadz Khair dari pondok pesantren di Binjai untuk memastikan bacaan yang direkam benar-benar layak,” tuturnya.

Implementasi Iqronic, sebuah inovasi Iqro Braille elektronik yang menggabungkan buku fisik dengan teknologi suara interaktif. (foto: Dokumentasi Iqronic/Mistar)

Kerja keras itu terbayar ketika Iqronic mulai diuji coba di Pertuni Sumut. Para lansia tunanetra tampak antusias menyentuh dan mencoba teknologi yang sebelumnya terasa jauh dari kehidupan mereka.

Raudhatul masih mengingat satu momen yang paling membekas. Seorang ibu lansia menyampaikan rasa harunya setelah mencoba alat tersebut. “Beliau bilang, ‘Makasih ya nak, akhirnya ibu bisa belajar sendiri.’ Itu membuat kami sangat terharu,” katanya.

Semangat para anggota Pertuni juga semakin tumbuh ketika alumni Hafiz Indonesia, Refan dan Refin, hadir memberi motivasi. Kehadiran keduanya menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar Al-Qur’an.

Meski masih berupa prototipe dengan biaya produksi sekitar Rp3 juta per unit, Iqronic telah mendapat perhatian di tingkat nasional. Inovasi ini berhasil lolos pendanaan ajang Inno Village dan masuk dalam 180 proyek terpilih dari hampir seribu proposal seluruh Indonesia.

Kini, Raudhatul dan tim tengah mempersiapkan pengembangan lanjutan. Mereka berharap Iqronic dapat diproduksi lebih ringan, lebih terjangkau, dan menjangkau sekolah luar biasa serta komunitas tunanetra di berbagai daerah.

Bagi Raudhatul, Iqronic bukan sekadar proyek kampus atau ajang kompetisi. Ada pelajaran besar yang ia temukan selama prosesnya. “Kami belajar bahwa hal kecil yang dilakukan dengan tulus ternyata bisa sangat berarti bagi orang lain,” ujarnya.

Di tangan para mahasiswa muda ini, teknologi tak lagi sekadar soal kecanggihan. Ia berubah menjadi jembatan harapan, membantu mereka yang hidup dalam gelap untuk tetap dapat mengeja ayat-ayat cahaya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN