Monday, June 22, 2026
home_banner_first
MEDAN

Perjalanan Panjang Prof Raras Sutatminingsih: Dari Mahasiswa Perantau Menjadi Guru Besar USU

Mistar.idMinggu, 3 Mei 2026 pukul 20.51 WIB
journalist-avatar-top
SH
perjalanan_panjang_prof_raras_sutatminingsih_dari_mahasiswa_perantau_menjadi_guru_besar_usu

Prof. Raras Sutatminingsih. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Nama Raras Sutatminingsih telah lama dikenal sebagai salah satu akademisi yang konsisten menekuni bidang psikologi klinis di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU). Puncak dari perjalanan panjang itu ia capai pada Agustus 2025, saat resmi menyandang gelar guru besar.

Capaian tersebut bukanlah hasil instan. Raras menapaki jalannya melalui proses panjang sejak masa sekolah hingga dunia akademik profesional.

Lahir di Jember pada 30 Oktober 1969, Raras menghabiskan masa kecil dan pendidikan dasarnya di kota tersebut. Ia mengenyam pendidikan di SD Negeri Jember Lor IV, melanjutkan ke SMP Negeri III Jember, dan SMA Negeri I Jember, sebelum akhirnya merantau untuk menempuh pendidikan tinggi.

Ketertarikannya pada ilmu psikologi membawanya ke Universitas Padjadjaran, tempat ia meraih gelar Sarjana Psikologi pada 1995. Perjalanan akademiknya berlanjut ke Universitas Gadjah Mada untuk jenjang magister, hingga meraih gelar doktor di Universiti Sains Malaysia.

Sejak awal, fokusnya tak pernah bergeser: psikologi klinis. Bidang ini pula yang kemudian menjadi benang merah dalam seluruh perjalanan kariernya.

Pada tahun 2000, Raras mulai mengabdi di USU. Ia menjalankan peran sebagai dosen, peneliti, sekaligus praktisi, dengan konsistensi dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi—pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kepercayaan institusi pun datang seiring waktu. Sejak 2017, ia dipercaya memimpin Program Studi Magister Psikologi Profesi. Tujuh tahun kemudian, ia kembali mengemban amanah sebagai Ketua Program Studi Profesi Psikologi.

Bagi Raras, gelar guru besar merupakan salah satu momen penting dalam hidupnya. Namun ia menegaskan pencapaian tersebut bukanlah garis akhir. “Saya juga berharap dapat meningkatkan penggunaan hasil riset terbaru dalam proses belajar mengajar,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Komitmen itu sejalan dengan fokus keilmuannya yang menitikberatkan pada kesejahteraan psikologis manusia. Dalam pidato ilmiahnya saat pengukuhan guru besar, ia mengangkat konsep pengelolaan enam tenaga dasar dalam diri manusia.

“Enam tenaga itu membutuhkan pengelolaan. Pengelolaan positif disebut pengelolaan konstruktif, sementara yang negatif disebut pengelolaan destruktif,” katanya.

Menurutnya, keseimbangan antara tenaga fisik, instingtif, intelektual, emosional, spiritual, hingga transendental menjadi kunci untuk mencapai kesehatan mental dan perkembangan diri yang optimal.

Di luar aktivitas kampus, Raras juga aktif dalam organisasi profesi. Ia menjabat sebagai Wakil Ketua I Ikatan Psikologi Klinis di Himpunan Psikologi Indonesia pusat, serta terlibat dalam berbagai asosiasi keilmuan lain, mulai dari psikologi pendidikan hingga psikologi positif.

Ia pun berbagi pesan bagi para akademisi yang tengah berjuang meraih gelar guru besar agar tetap gigih dan percaya pada proses.

“Setelah mengajukan semua persyaratan, reviewer akan memberikan penilaian yang harus dilengkapi lagi. Penuhi dan ikuti apapun feedback yang diberikan oleh reviewer. Apabila sudah dipenuhi, maka harus yakin bahwa jabatan akademik guru besar akan diperoleh,” ucapnya.

Ia menegaskan setiap orang memiliki jalannya masing-masing dalam meraih pencapaian tersebut. “Harus yakin, bahwa perjalanan setiap orang untuk meraih guru besar adalah berbeda-beda dan tidak harus sama,” tutur istri Akademisi dan Guru Besar USU, Prof Iskandar Zulkarnain tersebut.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN